THIS TOPIC BOX Ketik Topic Disini Contoh DZIKIR atau MAKAN

Translate

Saturday, 19 September 2015

MENGAPA MAKANAN MENJADI HARAM

Kriteria Makanan Menjadi Haram :

  • 1. Berbahaya
  • - Makan melebihi batas / berlebihan
  • - Racun
  • - Barang-barang yang diketahui berbahaya baik melalui penelitian, pengalaman, dan dokter
  • 2. Najis
  • - Seperti bangkai, darah haid, kotoran manusia, air kencing
  • - Semua benda najis pasti haram, tapi sesuatu yang haram belum tentu najis
  • 3. Memabukkan
  • - Setiap yang memabukkan adalah khomr dan setiap khomr hukumnya haram (HR. Muslim : 5336)
  • 4. Milik Orang Lain
  • - Memakan harta orang lain tanpa izin, baik dengan mencuri, memeras, menipu, dsb.
  • Jenis Makanan yang Haram :
  • 1. Bangkai
  • - Yaitu hewan yang mati bukan dengan cara syar'i baik karena mati sendiri, atau karena tercekik, dipukul, disetrum, jatuh dari tempat tinggi, terkena tanduk hewan lain.
  • - Potongan tubuh binatang yang masih hidup termasuk bangkai, seperti ekor kambing, punuk unta. telinga sapi, dsb.
  • - Sekalipun bangkai haram ada pengecualian untuk bangkai ikan dan belalang
  • 2. Darah
  • - Darah yang mengalir
  • - Sekalipun darah haram, namun ada pengecualian yaitu :
  • * Hati dan limpa berdasarkan hadits Ibnu Umar
  • * Sisa-sisa darah yang menempel pada daging, tulang / leher setelah disembelih
  • 3. Daging Babi
  • - Baik babi peliharaan maupun liar, dan mencakup anggota tubuh babi termasuk minyaknya.
  • 4. Sembelihan dengan menyebut selain nama Allah Swt.
  • - Apabila seseorang tidak mengindahkan hal itu, bahkan menyebut nama selain Allah Swt., baik patung, thogut, berhala, dll. Maka hukum sembelihan tersebut adalah haram dengan kesepakatan ulama
  • 5. Sembelihan untuk selain Allah Swt.
  • - Sembelihan yang diperuntukan selain Allah, baik kepada patung, batu, laut, wali, atau apapun selain Allah, maka sembelihannya adalah haram.
  • 6. Hewan yang diterkam binatang buas
  • - Yakni hewan yang diterkam oleh harimau, srigala, atau anjing, lalu dimakan sebagaiannya kemudian mati karenanya. Maka hukumnya haram sekalipun darahnya mengalir dan tergigit sebatas bagian leher.
  • 7. Binatang Buas yang bertaring
  • - Yang menjadi patokan keharaman binatang buas adalah apabila dia memiliki dua sifat, yaitu memiliki gigi taring dan melawan dengan taringnya
  • 8. Burung yang berkuku tajam
  • - Contohnya adalah burung garuda, elang, dan sejenisnya.
  • 9. Keledai Jinak
  • - Keledai jinak dan bighol haram, sedangkan daging kuda halal. (HR. Bukhori 4219, Muslim 1941, Abu Dawud 3789)
  • 10. Al-Jalalah
  • - Maksudnya adalah setiap hewan, yang makanan pokoknya adalah kotoran-kotoran seperti kotoran manusia / hewan, dan sejenisnya.
  • 11. Adh-Dhob
  • - Hewan sejenis biawak, bagi yang merasa jijik saja, yang tidak jijik silahkan saja memakannya.
  • 12. Hewan yang diperintahkan Agama supaya dibunuh.
  • - Diantaranya, ular, gagak, tikus, anjing hitam, tokek atau cicak.
  • 13. Hewan yang dilarang Agama untuk dibunuh.
  • - Diantaranya, semut, tawon, burung hud-hud, burung shurod, katak atau kodok.
  • FAQ :

  • Q : Bagaimana dengan hukum binatang yang hidup di dua alam ? Seperti kepiting, kura-kura, anjing laut, dan kodok ?

  • A : Adakah ayat al-Quran atau hadits shohih yang menyatakan bahwa binatang yang hidup di dua alam haram dimakan ?

  • Dengan demikian maka asal hukumnya adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya.
  • Kepiting hukumnya halal, sebagaimana pendapat Atho' dan Imam Ahmad.
  • Kura-Kura atau penyu juga halal sebagaimana madzhab Abu Huroiroh, Thowus, Muhammad bin Ali, Atho', Hasan al-Bashri, dan fuqoha Madinah.
  • Anjing laut juga halal sebagaimana pendapat Imam Malik, Syafi'i, Laits, Sya'bi dan al-Auza'i.
Adapun kodok atau katak, maka hukumnya haram mutlak menurut pendapat yang kuat karena termasuk hewan yang dilarang dibunuh.

BOLEHKAH SAYA GUNAKAN UANG YANG SAYA TEMUKAN DI JALAN?

 Menemukan barang temuan yang hilang dari pemiliknya berbeda hukumnya dengan menemukan harta karun peninggalan masa kerajaan di zaman dahulu. Barang temuan di dalam fiqih Islam termasuk bab luqathah.

 Secara hukum, barang milik orang lain yang tercecer atau hilang itu masih tetap hak milik si empunya, bukan milik si penemu. Maka jangan sekali-kali kita sebagai orang yang menemukan barang yang tercecer ini tiba-tiba merasa berhak untuk mengambil dan memiliki. Bahkan meski untuk disedekahkan atau diberikan kepada masjid, anak yatim atau fakir miskin. Sebab harta itu sebenarnya milik orang lain, bukan harta milik kita. Ini adalah sebuah kekeliruan pandangan yang mesti diluruskan dari cara pandang kita.

Barang orang yang hilang harus dikembalikan kepada yang punya. Dan upaya untuk bisa menemukan si pemilik yang telah kehilangan hartanya adalah sebuah ibadah tersendiri yang tentunya mendatangkan pahala.

Sebaliknya, mengambil apalagi sampai merasa memiliki barang yang hilang itu adalah tindakan dosa yang termasuk mengambil hak milik orang lain dengan cara yang batil.
Syariat Islam telah mengatur tentang bagaimana tindakan yang harus diambil dalam masalah ini. Ada 2 kemungkinan tindakan yang bisa diambil manakala seseorang menemukan barang yang hilang.

Pertama: Diambil
Seorang muslim boleh mengambil barang yang ditemukannya tercecer di suatu tempat, dengan dua syarat:
  1. Tujuannya bukan untuk memiliki namun untuk menjaganya dari kerusakan, kemusnahan atau kemungkinan jatuh ke tangan yang tidak bertanggung-jawab.
  2. Dirinya adalah orang yang punya kemampuan baik secara sifat amanah maupun secara teknis untuk memelihara dan menjaga barang tersebut.
  3. Setelah diambil maka segera diumumkan kepada publik bahwa telah ditemukan suatu barang dan kepada pemiliknya untuk segera mengambilnya.
Sehingga mengambil barang yang hilang dalam hal ini merupakan amal baik, yaitu menjaga harta milik seorang muslim dari kerusakan dan kepunahan.
Apabila dalam waktu satu tahun, pemiliknya tidak segera muncul mengambilnya, maka dia boleh menggunakan barang itu atau memilikinya, namun harus menyiapkan uang pengganti sesuai nilai nominal barang itu.

Kedua: Tidak Diambil
Sebaliknya, seandainya semua syarat di atas tidak terpenuhi, maka sebaiknya tidak usah diambil saja. Biarlah saudara muslim yang lain yang melakukan pengambilan harta dan barang luqathah.

Menggunakan Harta Luqathah
Untuk alasan tertentu selama pemilik asli barang temuan itu belum datang mengambil, ada celah untuk boleh memanfaatkannya. Namun yang namanya memanfaatkan bukan berarti memilikinya.

Misalnya, bila barang temuan itu termasuk barang yang mudah rusak, seperti makanan yang mudah basi, maka boleh hukumnya untuk dimakan, namun harus disiapkan sejumlah uang untuk menggantinya bila pemiliknya meminta.

Sedangkan bila bentuk harta itu adalah uang tunai, boleh saja digunakan untuk membayar suatu keperluan, namun dengan syarat bahwa uang itu siap diganti kapan saja saat nantipemiliknya datang.

 Hadits Nabi saw Bukhari dan Muslim dari Anas ra bahwa suatu saat beliau menemukan kurma di jalan lalu berkata, "Andaikan tidak karena khawatir bahwa kurma ini merupakan kurma sedekah, tentu sudah kumakan."


PANDANGAN SINGKATNYA

1. Yang kurang berharga atau bernilai. Kalaupun ada nilainya, maka sangat kecil. Sehingga jika hilang sangat besar kemungkinan tidak akan dicari oleh pemiliknya. Misalnya senilai seratus, lima ratus, atau seribu rupiah.Harta atau uang yang nilainya sangat kecil semacam itu boleh dimanfaatkan atau diambil oleh orang yang menemukannya.
Dalilnya adalah 

2. Harta atau uang yang nilainya cukup besar sehingga jika hilang kemungkinan besar dicari oleh pemiliknya. Nah yang semacam ini jika ditemukan maka barang atau uang tersebut harus diumumkan selama setahun di tempat-tempat keramaian, tempat lalu lalang, atau tempat berkumpulnya orang.  Jika sang pemilik datang, maka ia harus menyerahkan barang atau uang tersebut kepadanya.

Namun jika sudah setahun berlalu dari pengumuman tersebut tetapi sang pemilik belum juga datang, maka yang menemukan bisa memergunakan atau memanfaatkannya dengan catatan apabila si pemilik tiba-tiba datang, maka ia harus mengembalikan barang tersebut atau mengembalikan nilainya.


Friday, 18 September 2015

Makan Ikan yang Masih Hidup

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk bersikap baik kepada binatang. Sampaipun ketika kita hendak memakannya, beliau mengajarkan agar binatang yang halal itu, dimatikan dengan cara terbaik. Tidak ada unsur penyiksaan dan cepat mematikan.


Dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ؛ لِيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

  • Sesungguhnya Allah mewajibkan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu. Apabila kalian hendak mematikan (binatang), matikanlah dengan cara yang baik. Apabila kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendakya kalian menajamkan pisaunya dan mengistirahatkan sembelihannya. (HR. Ahmad , Nasai, Turmudzi, dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth).
  • Termasuk bentuk kasih sayang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau melarang umatnya untuk mematikan sesuatu dengan cara dibakar. Beliau sebut, ini cara menghukum yang hanya boleh dilakukan oleh Allah.  Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ النَّارَ لَا يُعَذِّبُ بِهَا إِلَّا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ


  • Tidak boleh menyiksa (membunuh) sesuatu dengan api, kecuali Allah azza wa jalla. (HR. Ahmad 8461, Bukhari 2954 dan yang lainnya)

Dalam Masail Abi Daud dinyatakan,

سمعت أحمد سئل عن السمكة تلقى في النار وهي حية؟ قال: لا

  • Saya mendengar Imam Ahmad ditanya tentang ikan yang dipanggang dalam kondisi masih hidup? Jawab beliau, “Jangan.” (Masail Abi Daud, no. 1647).
  • Berdasarkan keterangan di atas, memasak dengan model seperti yang disebutkan di video, tidak disarankan dalam islam. Islam agama yang mengajarkan kasih sayang. Sekalipun kita butuh untuk memakannya, ita tidak boleh menyiksanya.
  • Hukum Memakannya
  • Konsekuensi dari adanya larangan masak dengan model seperti di atas, sebagian ulama melarang kita makan ikan yang masih hidup. Ada yang mengatakan haram dan ada yang mengatakan bahwa larangan ini hanya makruh, tidak sampai haram.

Dalam Ensiklopedi Islam dinyatakan,

إذا أخذ السمك حيا لم يجز أكله حتى يموت أو يمات، كما يقول الحنفية والحنابلة. ويكره شيه حيا، لأنه تعذيب بلا حاجة، فإنه يموت سريعا فيمكن انتظار موته

  • Jika ada ikan yang diambil hidup-hidup, tidak boleh langsung dimakan sampai mati atau dimatikan. Sebagaimana yang ditegaskan dalam madzhab hanafi dan hambali. Dimakruhkan untuk memanggangnya hidup-hidup. Karena berarti menyiksa binatang tanpa ada kebutuhan. Karena ikan bisa cepat mati, sehingga mungkin untuk ditunggu kematiannya. (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah, 5/131).
Diantara yang menyampaikan hal ini adalah an-Nawawi,

ولو ابتلع سمكة حية أو قطع فلقة منها وأكلها أو ابتلع جرادة حية أو فلقة منها فوجهان (أصحهما) يكره ولا يحرم (والثانى) يحرم وبه قطع الشيخ أبو حامد
  • Jika ada orang yang makan ikan masih hidup atau mengambil sepotong daging ikan hidup lalu dia makan atau menelan belalang yang masih hidup, di sana ada 2 pendapat. Pendapat yang lebih benar, hukumnya makruh dan tidak haram. Pendapat kedua, hukumnya haram. Ini merupakan pendapat Imam al-Ghazali (Abu Hamid). (al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 9/73)
  • Ada juga ulama yang menilainya halal. Artinya, mereka membedakan antara hukum memasak dan hukum memakannya. Selama hewan itu halal bangkainya, baik dimakan sesudah mati atau dimakan masih hidup, statusnya halal. Yang bermasalah adalah sengaja menunda kematiannya, dan dimasak dalam keadaan dia tetap hidup. Jika unsur ini tidak ada, maka tidak ada hukum makruh di sana.
  • Sebagai contoh, ada orang makan ikan kecil yang bisa langsung mati dengan dikunyah, berarti di sana tidak

Kita simak keterangan yang disampaikan Ibnu Qudamah,

وسئل أحمد عن السمك يلقى في النار فقال ما يعجبني والجراد فقال ما يعجبني والجراد أسهل فإن هذا له دم ولم يكره السمك إذا ألقي في النار إنما كره تعذيبه بالنار

  • Imam Ahmad ditanya tentang ikan hidup yang dipanggang. Beliau mengatakan, ‘Aku tidak suka.’ Bagaimana dengan belalang? Jawab beliau, ‘Aku tidak suka. Meskipun belalang lebih ringan. Karena ikan punya darah.’ Kemudian, tidak dimakruhkan makan ikan yang dipanggang hidup-hidup. Yang dimakruhkan adalah menyiksanya dengan api.

Kemudian Ibnu Qudamah menyebutkan riwayat dari Ibnu Umar,

كان الجراد يقلى له فقال إنما يؤخذ الجراد فتقطع أجنحته ثم يلقى في الزيت وهو حي

  • Ada belalang goreng yang disuguhkan kepada beliau. Kemudian Ibnu Umar mengatakan, ‘Cara memasak belalang, dia dipangkas sayapnya, kemudian dimasukkan ke minyak (digoreng) dalam keadaan hidup.’ (al-Mughni, 11/43).

  • Dan kita bisa memastikan, ketika dia dimasukkan ke minyak panas utuh akan langsung mati.

  • Ini berbeda dengan memasak ikan sementara bagian kepalanya tidak ikut terendam minyak. Akibatnya dia tidak mati.

Thursday, 17 September 2015

PANDANGAN AMAL BAIK DENGAN IKLAS ATAU MENGHARAP SESUATU

Dari Abu Hurairah ujarnya, Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah telah berfirman:


« أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لا عَيْنٌ رَأَتْ ، وَلا أُذُنٌ سَمِعَتْ ، وَلا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ »

“Aku telah menyiapkan untuk para hamba-Ku yang shalih balasan atas amal shalihnya dengan sesuatu yang tak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga dan terbayangkan dalam hati manusia.” [HR. Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad]

Allah Swt telah menjanjikan kepada hamba-Nya yang beramal shalih semata-mata demi mencari keridhaan-Nya, sehingga tidak pernah merasa jemu melaksanakan perintah Allah seberat apapun, dan menjauhi larangan Allah sesulit apapun selama mereka hidup di dunia. Untuk itu Allah Swt akan memberikan reward (pahala) dengan jaminan-jaminan hidup yang tidak pernah dapat dibayangkan keindahannya, kehebatannya, kenikmatannya dan keunggulannya, sekalipun namanya sama sebagaimana Allah sebutkan dalam Al-Baqarah ayat ke 25:

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِن قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

“Wahai Muhammad, gembirakanlah orang-orang yang beriman dan beramal shalih. Sesungguhnya orang-orang mukmin kelak di akhirat mendapatkan surga-surga. Di bawah surga itu mengalir sungai-sungai. Setiap kali orang-orang mukmin dikaruniai makanan dari buah-buahan surga, mereka berkata: “Ini adalah makanan yang dahulu pernah diberikan kepada kami di dunia.” Mereka diberi makanan serupa dengan yang di dunia, tetapi berbeda kelezatannya. Orang-orang mukmin mendapatkan istri-istri yang suci, mereka kekal di dalam surga”.

Mengapa Rasulullah Saw bersabda seperti tersebut pada hadits di atas, sedangkan ayat Al-Qur’an juga telah menyebutkan bahwa para hamba yang shalih pasti memperoleh balasan berbagai macam kesenangan di dalam surga?

Sabda Rasulullah Saw ini menunjukkan bahwa, pada diri manusia terdapat naluri mendambakan reward (imbalan, hadiah, ataupun balasan) yang lebih baik dari perbuatan yang dilakukannya. Naluri semacam ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai contoh, seseorang yang bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan, ketika dia ditawari oleh perusahaan lain untuk bekerja di tempatnya dengan gaji yang lebih besar dan fasilitas lain yang lebih bagus, maka ia segera menyambutnya. Mengapa terjadi hal semacam ini? Karena memang di dalam jiwa tiap-tiap orang telah tertanam naluri untuk mengejar balasan atau imbalan yang lebih baik, lebih banyak dan kelebihan-kelebihan lainnya.

Kenyataan ini dapat kita buktikan di negeri kita, ketika seorang karyawan bekerja di perusahaan pribumi lalu datang perusahaan asing menawarkan gaji yang lebih besar padahal pekerjaannya sama, lalu dia pindah ke perusahaan asing, maka dia tidak bisa di salahkan. Atau orang semacam ini dinilai sebagai seorang yang kurang profesional, tidak mencintai bangsanya sendiri, tidak punya sifat patriotis, atau tipisnya rasa nasionalisme dan lain sebagainya. Orang yang mencela tindakan karyawan yang pindah ke perusahaan asing itu, sebenarnya adalah orang yang tidak mengerti sifat naluriah manusia.

Oleh karena itu, alasan demi patriotisme, nasionalisme, heroisme, mencela orang Indonesia yang bekerja pada perusahaan-perusahaan asing dan meninggalkan perusahaan pribumi, hanyalah kebohongan dan slogan kosong belaka. Setiap jiwa manusia otomatis memiliki naluri mengejar balasan yang lebih baik dan lebih banyak, sekalipun pekerjaan yang dilakukannya itu sedikit.

Adanya naluri semacam ini, dinyatakan dengan jelas oleh Allah sebagaimana tersirat pada hadits di atas. Ketika seseorang yang melakukan usaha atau perbuatan baik, kemudian dia menerima janji dari seseorang yang betul-betul diyakini kejujuran dan kesungguhannya menepati janji, maka ia akan menyambut janji itu, sekalipun belum ada kenyataannya pada saat itu.

Orang-orang mukmin sungguh yakin bahwa Allah pasti memenuhi janji-Nya dalam membalas amal shalih mereka. Maka sudah semestinya kaum mukmin berlomba-lomba melakukan amal shalih karena keyakinannya yang penuh kepada kebenaran janji Allah. Hal ini sudah merupakan suatu yang logis bahwa seseorang yang yakin dengan janji atau harapan yang diberikan oleh pihak lain terhadap dirinya, maka dia akan bekerja keras untuk meraih apa yang dijanjikan orang kepadanya.

Hal ini juga berlaku pada kehidupan orang-orang kafir yang mengejar kehidupan dunia dengan segala macam cara, sekalipun yang dikejarnya itu baru merupakan angan-angan belaka. Misalnya, orang kafir yang mengembangkan usahanya tanpa peduli batasan haram lalu dia terjang semua rintangan, baik rintangan agama ataupun hukum negara. Ternyata kerja kerasnya mengejar angan-angannya berakhir di gelapnya penjara.


Hal ini menjadi bukti bagi orang mukmin bahwa sifat naluriah mengejar imbalan yang lebih banyak atau lebih besar dari perbuatan yang di lakukan, sangat manusiawi.

Beramal shalih dengan mengharapkan pahala lebih besar dari Allah tidak dapat dikategorikan amal shalih yang tidak ikhlas. Karena yang dimaksud amal shalih secara ikhlas, yaitu beramal shalih semata-mata mengejar balasan dan keridhaan Allah. Firman Allah Swt.:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal kaum Yahudi dan Nasrani dahulu telah disuruh untuk mengimani Muhammad, dan menaati agama yang dibawanya dari Allah dengan ikhlas, melaksanakan shalat dengan sempurna, dan menunaikan zakat. Itulah agama tauhid yang sebenarnya.” (QS. Al-Bayinah [98]: 5)

Jadi, kata ‘ikhlas/mukhlishin’ yang dimaksud pada surah Al-Bayinah ayat 5 di atas, adalah menaati ketentuan Allah dan Rasul-Nya dengan benar, termasuk mengharapkan pahala dari Allah atas amal-amal shalihnya.

Hadits dan ayat Al-Qur’an yang menjanjikan balasan kepada orang mukmin yang beramal shalih dengan berlipat ganda menunjukkan bahwa, dorongan beramal shalih pada diri orang mukmin untuk meraih imbalan surga bukanlah suatu yang tercela, atau dianggap sebagai orang yang terpengaruh faham materialisme, karena keinginan mengejar balasan kebendaan. Anggapan demikian sangat tidak benar. Karena yang menjanjikan adalah Allah sendiri bukan manusia. Paham materialisme berkaitan dengan mengejar kebendaan yang ada di dunia ini, sedangkan orang mukmin dalam beramal shalih mengejar janji Allah di akhirat besok.

Jadi, seorang mukmin dalam beramal shalih harus senantiasa mengharapkan ridha Allah untuk mendapatkan balasan dari-Nya, dan bukan balasan dari sesama manusia. Balasan dari Allah tidak dapat diperkirakan lipat gandanya, dan hal ini merupakan jaminan dari Allahu SWT.

Wednesday, 16 September 2015

ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR

Imam Ghazali  berkata bahwa menahan lapar mengandung 10 Manfaat


1) Mudah memperoleh kebersihan hati, menjadi cerdas, dan terbuka mata hatinya. Sebab, apabila seseorang itu makan kenyang, Ia akan malas dan cahaya hatinya akan hilang. Otaknya dikuasai sejenis demam yang mempengaruhi hatinya. Pikirannya menjadi lemah. Bahkan jika seorang kanak-kanak biasa makan kenyang, daya ingatnya akan menjadi lemah dan otaknya akan tumpul.

Abu Sulaiman Darani rah.a berkata, "Biasakanlah menahan lapar, karena dengan menahan lapar, nafsumu akan terkendali, hatimu menjadi lembut, dan ilmu langit akan didapat.".

Syibli rah.a berkata, "Satu hari yang di dalamnya aku menahan lapar semata-mata karena Allah swt, maka pada hari itu aku memperoleh satu pintu i'tibar, dan hikmah terbuka dalam diriku.".

ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR

Inilah sebabnya mengapa Luqman Hakim menasihati anaknya, "Wahai anakku, apabila perut seseorang itu penuh, maka fikirannya akan tidur, hikmahnya menjadi bisu, dan anggota-anggota badannya akan malas untuk beribadah.

Abu Yazid Al-Bustami rah.a berkata, "Lapar adalah seperti awan. Apabila seseorang itu lapar, maka awan itu akan menurunkan hujan hikmah ke dalam hatinya."

2) Hati menjadi lembut dan mudah terpengaruh oleh dzikir dan amal shalih lainnya. Terkadang, seseorang itu berdzikir dengan tawajjuh, tetapi hatinya tidak dapat merasakan kemanisan. Dzikir tersebut tidak terkesan olehnya. Pada waktu hati dalam keadaan lembut, ia dapat merasakan kelezatan berzikir, berdoa, dan bermunajat. Abu Sulaiman Darani rah.a berkata, "Aku merasakan ibadahku yang paling lezat ketika perutku menyentuh pinggangku karena kelaparan yang amat sangat.

Junaid Baghdadi rah.a berkata, "Seseorang yang meletakkan wadah makanan antara dadanya dan Allah swt, bagaimana mungkin ia akan memperoleh kelezatan bermunajat kapada Allah?" (Perut yang kenyang diumpamakan sebuah wadah makanan).

3) Memiliki sifat tawadhu' dan rendah hati. Kesombongan yang merupakan puncak kedurhakaan dan kelalaian akan lenyap, karena nafsu tidak dapat dikendalikan kecuali dengan menahan lapar. Manusia tidak dapat melihat kemuliaan dan kehebatan Rabbnya selama ia tidak melihat 'aib dan nafsunya sendiri. Seseorang hendaklah sering menahan lapar agar dapat bertawajjuh kepada Rabbnya dengan penuh kesungguhan.

lnilah sebabnya ketika Allah swt menawarkan kepada Rasulullah untuk menjadikan bukit di Makkah menjadi emas, maka Rasulullah saw berkata, "Tidak, aku ingin makan sehari dan lapar pada hari berikutnya, agar pada hari aku mengalami lapar, maka aku dapat bersabar dan meminta kepadaMu dengan merendahkan diriku di hadapan-Mu. Dan ketika aku makan, maka aku dapat bersyukur kepada-Mu.".

4) Mendatangkan sifat tidak melupakan orang lain yang terkena musibah, kesusahan, atau kelaparan. Orang yang makan kenyang, sedikit pun tidak dapat merasakan atau membayangkan apa yang dialami oleh orang-orang miskin yang kelaparan.

Nabi Yusuf a.s pernah ditanya, "Khazanah bumi ada di dalam genggaman engkau, tetapi mengapa engkau masih menahan lapar?". Beliau menjawab, "Aku takut jika perutku kenyang, lalu aku melupakan orang-orang yang lapar.".

Seseorang yang lapar dan haus akan merasakan:

* Semakin tertanam dalam fikirannya tentang lapar dan haus pada hari Kiamat.

* Mudah mendatangkan rasa takut kepada adzab Allah swt.

* Mudah mengingat hari yang pada hari itu para penghuni neraka akan merasakan kelaparan yang sangat dahsyat, lalu mereka diberi makanan (buah yang penuh duri dan pahit yang akan tersangkut dl kerongkongan mereka, dan mereka akan diberi minum darah dan nanah dari luka-luka para penghuni neraka.

5) Selamat dari perbuatan dosa, sebab perut yang kenyang merupakan induknya syahwat, sedangkan lapar dapat menghancurkan segala jenis syahwat. Orang yang dikuasai nafsunya adalah orang yang malang. Kuda yang liar dan sulit diatur hanya bisa dikendalikan jika ia dibuat lapar. Jika ia banyak makan dan minum, ia akan menjadi liar, demikian juga halnya dengan nafsu.

Seorang ahli wara' ditanya, "Dalam usia yang sangat tua ini, mengapa engkau tidak mengurusi tubuhmu (dengan memakan makanan yang menyehatkan dan menguatkan badan)?". Ia menjawab bahwa nafsu bergerak cepat ke arah syahwat. Aku khawatir ia akan menjeratku dalam dosa. Karena itulah aku lebih suka memberikan kesusahan padanya daripada ia menjeratku dengan perbuatan dosa.".

Aisyah r.ha berkata, "Permulaan bid'ah kaum muslimin setelah Rasulullah wafat adalah makan kenyang. Apabila perut manusia penuh (kenyang), maka nafsu mereka tertuju kepada dunia.".

Faedah yang dibahas di sini bukan hanya satu faedah, tetapi mengandung banyak faedah. Faedah yang terendah adalah dapat mengendalikan syahwat kemaluan dan berkata sia-sia. Inilah perkara yang dapat menyebabkan manusia selamat dari mengumpat, berdusta, mencela dan mengadu domba. Apabila makan kenyang, maka hati manusia ingin banyak bicara, yang biasanya menyinggung orang lain.

6) Jika makan kurang, maka tidur juga kurang. Mudah untuk bangun malam (sholat tahajjud).

Tujuh puluh orang ahii hikmah sepakat bahwa apabila banyak minum air, maka tidur pun akan lebih lama. Dan jika tidur lama, maka banyak umurnya yang dihabiskan dengan sia-sia. Kehilangan shalat Tahajjud adalah kerugian yang disebabkan oleh tidur yang lama. Tidur yang lama dapat menyehabkan badan menjadi lemah dan malas, dan hati menjadi keras. Jika istri tidak ada di sampingnya, orang yang tidur lama akan mengalami ihtilam (mimpi bersetubuh). Dan karena peralatan dan keperluan mandi tidak dipersiapkan, shalat Tahajjud pun terlepas.

7) Mampu beribadah dengan mudah. Dalam keadaan kenyang akan datang perasaan malas, sehingga dapat menjadi penghalang untuk melakukan ibadah. Untuk mempersiapkan makan saja diperlukan waktu yang lama. Jika makanan itu harus dimasak, waktu untuk mempersiapkannya tentu lebih lama. Setelah makan, orang perlu membasuh tangan, mencungkil gigi dan bangun berulang kali untuk minum. Untuk hal-hal tersebut tentu mengbabiskan banvak waktu. Jika waktu-waktu tersebut digunakan untuk mengingat Allah dan mengerjakan ibadah-ibadah lainnya, maka betapa besar manfa'at yang akan diperoleh.

Sirri Saqati rah.a berkata, "Ketika aku melihat Ali Jurjani sedang memakan tepung goreng saja, aku bertanya mengapa ia hanya memakan tepung goreng. Ia menjawab, "Setelah aku menghitung waktu untuk mengunyah dan menelan setiap makanan itu, ternyata bisa untuk membaca subhanallah 70 kali. Oleh karena itu sejak 40 tahun aku tidak memakan roti lagi, karena untuk mengunyah dan menelannya memerlukan waktu yang lama.

Pada hakikatnva, setiap pernafasan manusia sangat berharga dan perlu dijaga untuk simpanan di akhirat. Caranya hanyalah dengan menggunakan waktu dalam hidup ini untuk berdzikir dan beribadah lainnya. Disamping itu, apabila banyak makan, maka wudhu' akan mudah batal dan sering buang air. Akibatnya, orang tidak akan duduk lama di dalam masjid, dan akan keluar masjid untuk buang air atau berwudhu'.

Barangsiapa terbiasa menahan lapar, mereka akan mudah berpuasa, beri'tikaf, senantiasa menjaga wudhu', menghemat waktu makan, sehingga dapat melakukan ibadah lainnya. Demikianlah, pendek kata sangat banyak faedahnya, dan hal ini akan didapatkan dengan cara makan. Barangsiapa lalai dan tidak menghargai agama, mereka tidak akan menghargai masalah ini. Mereka berpuas hati dengan kehidupan dunia yang fana ini dan tidak mengetahui apakah kehidupan akhirat itu. Mereka hanya mengetahui keadaan dunia.

8) Mengurangi makan dapat menyebabkan kesehatan badan. Kebanyakan penyakit berasal dari banyak makan. Apabila banyak makan, maka lemak akan berkumpul di dalam usus dan urat, akibatnya timbul bermacam-macam penyakit, sehingga terhalang untuk beribadah, dan hati senantiasa gelisah sehingga menghalangi dzikir dan fikir. Di samping itu perlu makan obat, berpantang, harus mengunjungi dokter, memeriksa tekanan darah memeriksa tinja. Pendek kata, mereka akan terperangkap dalam banyak peraturan akibat banyak makan, dan tentu saja harus mengeluarkan banyak uang. Belum lagi kesusahan dan penderitaan yang harus dirasakannya Hanya orang yang dapat menahan lapar yang selamat dari musibah ini.

Dikisahkan bahwa suatu ketika, Khalifah Harun Ar-Rasyid rah.a mengumpulkan empat orang tabib. Yang pertama dari Hindustan, yang kedua dari Rum, yang ketiga dari Iraq, dan yang keempat dari Sawad. Ia berkata kepada keempat tabib tersebut, "Beritahukanlah kepadaku obat yang sama sekali tidak membahayakan.".

Tabib Hindustan menjawab, "Menurut saya, obat yang tidak membahayakan adalah Ihlailaj Aswad.". Tabib Rum menjawab, "Saya rasa, obat itu adalah Habbur-Rasyadul-Abyadh." Tabib Iraq menjawab, "Menurut pendapat saya, yang tidak membahayakan adalah air panas.". Tabib dari Sawad menjawab, "Semua itu salah, Ihlailaj-Aswad akan mengacau perut, dan ia sendiri merupakan puncak dari segala penyakit (dan penulis, zat itu akan membahayakan jantung), Habbur-rasyadul aswad akan melicinkan lambung, dan air panas akan mengendurkan perut.". Ketiga tabib itu berkata, "Sekarang beritahukanlah apa yang tidal membahayakan sedikit pun.". Tabib dari Sawad menjawab, "Janganlan makan jika tidak sangat lapar atau sangat ingin makan, dan berhentilah sebelum kenyang".
ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR learnfiqih.blogspot.comPAR
Rasulullah saw bersabda bahwa sepertiga bagian perut hendaknya diisi dengan makanan, sepertiga diisi dengan air, dan sepertiga lagi dibiarkan kosong untuk udara. Ketika hadits ini terdengar oleh seorang filsuf, ia terperanjat dan berkata, "Baru sekarang ini aku mendengar perkataan yang sangat tepat dan baik untuk mengurangi makan. Tidak diragukan lagi, inilah kata-kata ahli hikmah.".
ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR learnfiqih.blogspot.comPAR
9) Mengurangi makan dapat mengurangi pengeluaran uang, sedangkan banyak makan menyebabkan banyak pengeluaran. Sehingga untuk mengatasi perbelanjaan yang membengkak, terpaksa harus mencari pendapatan tambahan, baik dengan cara yang dibenarkan syariat ataupun meminta-minta kepada orang lain.

Seorang ahli hikmah berkata, "Kebanyakan keperluanku telah aku sempurnakan dengan cara meninggalkannya. Dengan cara seperti itu aku merasa tenang dan tawajjuh.". Seorang ahli hikmah lainnya berkata. "Untuk mencukupi keperluan, jika perlu aku harus berutang. Oleh karena itu aku harus berutang kepada nafsuku dengan cara memahamkan kepada nafsuku, "Nanti aku akan aku bayar utangku ini kepadamu.". Yakni, keinginan nafsuku ketika itu aku biarkan sebagai utangku kepadanya, dan aku akan membayarnya pada lain waktu.".
ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR
Apabila Ibrahim bin Adham rah.a memerlukan sesuatu, ia akan mulai mengutuknya dan berkata kepada teman-temannya bahwa ia sudah memutuskan hubungan dengan benda itu.

Penyebab terbesar kebinasaan seseorang adalah tamak terhadap dunia. Tamak berasal dari perut dan kemaluan. Kekuatan kemaluan juga disebabkan ketamakan perut. Jika seseorang mengurangi makan, ia akan selamat dari musibah ini. Hanya orang yang dikaruniai taufik oleh Allah swt sajalah yang bernasib baik dapat melakukannya.

10) Mengurangi makan akan menyebabkan banyak bersedekah, mengutamakan orang lain, berkasih sayang, dan menghemat makanan. Dengan mengurangi makan akan memudahkan seseorang untuk bersedekah kepada anak yatim, fakir miskin, dan orang-orang yang ditimpa bencana. Inilah antara lain bekal untuk memperoleh naungan-Nya pada hari Kiamat.

Rasulullah saw bersabda, "Manusia akan berada di bawah naungan sedekahnya pada hari Kiamat. Jika seseorang banyak makan, setelah makanan itu menjadi kotoran, ia akan terkumpul di tempat busuk. Sedangkan apa yang tersimpan di khazanah Allah swt akan berguna selama-lamanya. Sedangkan yang menjadi kotoran akan musnah ".

Sebagaimana sabda Nabi saw yang telah disebutkan terdahulu, manusia mengatakan, "Hartaku, hartaku, padahal harta yang sebenarnya hanyalah iga hal saja;
ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR
1. Yang telah diselamatkan melalui sedekah.
2. Yang telah dihabiskan untuk dimakan.
3. Yang telah dipakai sampai usang.

Selain dari tiga hal tersebut harta adalah milik orang lain dan ahli warisnya. Dan ia sendiri tidak memiliki apa pun di dalamnya.".
ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR learnfiqih.blogspot.comPAR
ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR

Diceritakan bahwa ketika kemenangan dan harta kekayaan telah banyak diperoleh oleh kaum muslimin pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab r.a maka putrinya, Hafshah r.ha, telah mengusulkan dan meminta kepada ayahnya agar ia berpakaian yang baik ketika utusan negeri datang menemuinya. Hafshah r.ha juga meminta agar ketika para utusan itu memakan makanan yang lezat yang telah disediakan untuk mereka, maka ayahnya hendaknya juga turut serta.
ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR learnfiqih.blogspot.comPAR
Jawab Umar r.a."Ketahuilah bahwa keadaan seseorang itu paling diketahui oleh ahli rumahnya." Hafshah r.ha menjawab, "Benar, itu tentu tidak diragukan lagi." Umar r.a berkata, "Kalau begitu, aku akan bertanya kepadamu dan jawablah pertanyaanku dengan bersumpah: "Bagaimanakah kehidupan Rasulullah saw di dunia ini? Tidakkah kamu ingat bahwa pada masa itu, jika Rasulullah saw dan keluarganya makan malam, maka mereka tidak akan makan siang. Dan jika mereka makan siang, mereka tidak akan makan apa pun sepanjang malam. Tidakkah kamu ketahui bahwa beberapa tahun setelah masa kenabian, beliau saw dan keluarganya tidak pernah makan kenyang walaupun dengan buah kurma, sampai terjadinya kemenangan dalam perang Khaibar? ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR

Aku bertanya kepadamu dan jawablah dengan bersumpah! Tidakkah kamu ketahui bahwa suatu ketika kamu menghidangkan makanan kepada Rasulullah saw di atas sejenis tempat yang tinggi di atas lantai ketika itu kamu melihat wajah Rasulullah saw berubah, sehingga beliau saw hanya makan jika makanan itu diturunkan dan diletakkan di bawah (di atas lantai).
ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR learnfiqih.blogspot.comPAR
Aku bertanya kepadamu dan jawablah dengan bersumpah. Tidakkah kamu ketahui bahwa Rasulullah saw biasa beristirahat di atas selimut yang dilipat dua. Suatu ketika, kamu telah menghamparkan kain itu dengan dilipat empat, maka beliau saw bersabda kepadamu bahwa dengan dilipatnya kain itu menjadi empat lipatan telah menghalangi beliau dari bangun malam. Karena kain yang berlipat empat menjadi lebih tebal seperti tempat tidur, sehingga menyebabkan beliau saw tertidur dengan nyenyak? Lalu Rasulullah saw menyuruhmu untuk menghamparkan kain selimut itu dengan dilipat dua seperti biasa.
ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR learnfiqih.blogspot.comPAR
Aku bertanya kepadamu dan jawablah kepadaku dengan bersumpah, tidakkah beliau saw menanggalkan baju dari badannya yang penuh berkah itu untuk dicuci, lalu ketika itu Bilal r.a mengumandangkan adzan dan memanggil Rasulullah saw untuk mengimami shalat, maka Rasulullah saw tidak memakai pakaian lainnya untuk mengimami shalat, kecuali jika baju yang dicuci itu kering dan dapat dipakai lagi, bukankah demikian? ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR
ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR learnfiqih.blogspot.comPAR
Aku bertanya kepadamu, jawablah dengan bersumpah! Tidakkah kamu ketahui bahwa salah seorang wanita dari Banu Zhaffar telah menyediakan dua helai kain untuk dipakai Rasulullah saw, sehelai sarung dan sehelai selimut. Ia telah mengirimkan yang pertama, namun terlambat mengirimkan yang kedua. Maka Rasulullah saw memakai sehelai kain itu lalu mengikat kedua ujungnya di bahu belakang leher, agar tubuhnya tidak terbuka, kemudian Rasulullah saw pergi shalat, karena beliau saw tidak memiliki pakaian lainnya untuk dipakai shalat?".
ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR learnfiqih.blogspot.comPAR
Demikianlah, Umar r.a juga menceritakan peristiwa lainnya. Apabila Hafshah r.ha mengingat peristiwa itu, ia akan menangis, sedangkan Umar r.a sendiri banyak menangis, bahkan sampai menjerit, sehingga karena tangisnya itu dikhawatirkan nyawanya akan tercabut.
ADA 10 MANFAAT DARI MENAHAN LAPAR learnfiqih.blogspot.comPAR