THIS TOPIC BOX Ketik Topic Disini Contoh DZIKIR atau MAKAN

Translate

Showing posts with label RASULULLAH. Show all posts
Showing posts with label RASULULLAH. Show all posts

Wednesday, 19 August 2015

SERATUS ENAM PULUH KEBIASAAN NABI MUHAMMAD SAW 5

IX. PERNIK-PERNIK KEBIASAAN NABI SAW


  1.     Selalu mengingat Allah di setiap waktu
  2.     Mengulangi perkataan hingga tiga kali dan bicara dengan suara yang jelas
  3.     Selalu mendahulukan yang kanan
  4.     Menutup mulut dan merendahkan suara apabial bersin
  5.     Tidak menolak jika diberi minyak wangi
  6.     Tidak pernah menolak hadiah
  7.     Selalu memilih yang lebih mudah
  8.     Bersujud syukur jika mendapat kabar gembira
  9.     Bersujud tilawah jika membaca ayat sajdah
  10.     Tidak datang ke rumah pada wkatu malam melainkan pada pagi dan sore hari
  11.     Tidak suka berbincang-bincang setelah Isya’
  12.     Tidak senang menyimpan harta dan selalu memberi jika ada yang meminta
  13.     Mengulang salam hingga tiga kali
  14.     Turut mengerjakan pekerjaan rumah
  15.     Pergi ke masjid Quba setiap sabtu
  16.     Sangat marah jika hukum Allah dilanggar namun tidak marah jika dirinya disakiti
  17.     Berubah warna mukanya jika tidak menyukai sesuatu
  18.     Memilih waktu yang tepat dalam menasehati
  19.     Tidak bohong dalam bergurau
  20.     Berdiri apabila melihat iringan jenazah
  21.     Baru mengangkat pakaian jika telah dekat dengan tanah saat buang hajat
  22.     Buang air kecil dengan jongkok
  23.     Bermusyawarah jika membicarakan suatu masalah yang penting
  24.     Menyuruh istrinya agar memakai kain jika ingin menggaulinya dalam keadaan haidh

(Akaha, Abduh Zulfidar, 160 Kebiasaan Nabi saw, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta Timur, cetakan I, 2002)



SERATUS ENAM PULUH KEBIASAAN NABI MUHAMMAD SAW 4

VI. KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM TIDURNYA

  1.     Tidur dalam keadaan suci
  2.     Tidur di atas bahu sebelah kanan
  3.     Meletakkan tangan di bawah pipi
  4.     Meniup kedua tangan dan membaca do’a lalu mengusapkannya ke badan
  5.     Tidak suka tidur sebelum Isya’
  6.     Tidur pada awal malam dan bangun di sepertiga akhir
  7.     Berwudlu dulu jika akan tidur dalam keadaan junub
  8.     Berdo’a sebelum dan setelah bangun tidur
  9.     Membaca do’a jika terjaga dari tidur
  10.     Tidur matanya namun tidak tidur hatinya
  11.     Menyilangkan kaki jika tidur di masjid
  12.     Tidur hanya beralaskan tikar
  13.     Tidak menyukai tidur tengkurap

VII. KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM BEPERGIAN


  1.     Berlindung kepada Allah dari beban perjalanan jika hendak bepergian
  2.     Sengang bepergian pada hari kamis
  3.     Senang pergi pada pagi hari
  4.     Menyempatkan tidur dalam perjalanan di malam hari
  5.     Melindungi diri atau menjauh jika buang haajt
  6.     Berada di barisan belakang saat bepergian
  7.     Bertakbir tiga kali ketika telah berada di atas kendaraan
  8.     Bertakbir saat jalanan naik dan bertasbih saat jalanan menurun
  9.     Berdo’a jika tiba waktu malam
  10.     Berdo’a jika melihat fajar dalam perjalanan
  11.     Berdo’a ketika kembali dari bepergian
  12.     Mendatangi masjid terlebih dahulu saat baru tiba dan shalat dua raka’at
  13.     Mengundi istri-istrinya jika bepergian
  14.     Shalat di atas kendaraan
  15.     Menghadap ke arah kiblat terlebih dahulu jika shalat di atas kendaraan
  16.     Mendo’akan orang yang ditinggal pergi
  17.     Mendo’akan orang yang akan bepergian
  18.     Memberi bagian tersendiri kepada orang yang diutus pergi

VIII. KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM DZIKIR DAN DO’ANYA

  1.     Senang berdoa dengan do’a yang ringkas
  2.     Membaca istighfar tiga kali dan berdzikir selepas shalat
  3.     Membaca istighfar tujuh puluh kali hingga seratus kali setiap hari
  4.     Membaca shalat dan salam atas dirinya jika masuk dan keluar dai masjid
  5.     Membaca do’a di pagi dan sore hari
  6.     Membaca do’a di akhir majlis
  7.     Membaca do’a saat keluar rumah
  8.     Berdo’a jika masuk dan keluar kamar kecil
  9.     Berdoa jika memakai pakaian baru
  10.     Berdo’a jika merasa sakit
  11.     Berdo’a jika melihat bulna
  12.     Memanjatkan do’a di saat sulit
  13.     Berdo’a jiika takut pada suatu kaum adan saat bertemu musuh
  14.     Berdo’a jika bertiup angin kencang
<<<HALAMAN SEBELUMNYA SERATUS ENAM PULUH KEBIASAAN NABI MUHAMMAD SAW 3

HALAMAN BERIKUTNYA SERATUS ENAM PULUH KEBIASAAN NABI MUHAMMAD SAW 5 >>>

SERATUS ENAM PULUH KEBIASAAN NABI MUHAMMAD SAW 3

III. KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM MASALAH PUASA


  1.     Puasa dan berbuka secara seimbang
  2.     Berbuka puasa sebelum shalat maghrib
  3.     Berbuka dengan korma
  4.     Tetap puasa meskipun bangun dalam keadaan junub
  5.     Berpuasa jika tidak mendapatkan makanan di pagi hari
  6.     Membatalkan puasa sunnah jika memang ingin makan
  7.     Banyak puasa di bulan sya’ban
  8.     Puasa enam hari syawal
  9.     Puasa hari Arafah
  10.     Puasa Asyura atau sepuluh muharam
  11.     Puasa hari senin dan kami
  12.     Puasa tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulan
  13.     Mencium istri di siang hari

IV. KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DI BULAN RAMADHAN


  1.     Memperbanyak sedekah
  2.     Memperbanyak membaca Al-Qur’an
  3.     Mengakhirkan waktu sahur
  4.     Puasa wishal
  5.     Memperbanyak shalat malam (menghidupkan malam ramadhan)
  6.     I’tikaf
  7.     Menghidupkan sepuluh malam terakhir dan membangunkan keluarganya
  8.     Menyuruh para sahabat agar bersungguh-sungguh mencari lailatul qadar

V. KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DALAM MAKAN DAN MINUM


  1.     Tidak pernah mencela makanan
  2.     Tidak makan sambil bersandar
  3.     Makan dan minum dengan tangan kanan
  4.     Makan dengan tiga jari
  5.     Menjilati jari-jemari dan tempat makan selesai makan
  6.     Mengambil nafas tiga kali ketika minum
  7.     Minum dengan duduk dan berdiri
  8.     Mulai makan dari pinggir tempat makan
  9.     Berdo’a sebelum dan sesudah makan
  10.     Tidak pernah kenyang dua hari berturut-turut
  11.     Tidak pernah makan di depan meja makan

<<<HALAMAN SEBELUMNYA SERATUS ENAM PULUH KEBIASAAN NABI MUHAMMAD SAW 2

HALAMAN SELANJUTNYA SERATUS ENAM PULUH KEBIASAAN NABI MUHAMMAD SAW 4 >>>

SERATUS ENAM PULUH KEBIASAAN NABI MUHAMMAD SAW 2

II. KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW DI HARI JUM’AT DAN DUA HARI RAYA


  1.     Membaca surat As-Sajdah dan Al-Insan dalam shalat subuh di hari Jum’at
  2.     Memotong kuku dan kumis setiap hari Jum’at
  3.     Mandi pada hari Jum’at
  4.     Memakai pakaian terbaik untuk shalat jum’at
  5.     Memendekkan khutbah Jum’at dan memanjangkan shalat
  6.     Serius dalam khutbahnya dan tidak bergurau
  7.     Duduk di antara dua khutbah Jum’at
  8.     Membaca surat Al-A’la dan Al-Ghasyiyah dalam shalat Jum’at
  9.     Shalat sunnah setelah jum’at
  10.     Tidak langsung shalat sunnah setelah Jum’at
  11.     Mandi sebelum berangkat shalat Id
  12.     Memakai pakaian teraik ketika shalat Id
  13.     Makan terlebih dahulu sebelum berangkat shalat Idul Fitri
  14.     Baru makan sepulang dari melaksanakan shalat Idul Adha
  15.     Shalat Id di tanah lapang
  16.     Mengajak semua keluarganya ke tempat shalat Id
  17.     Memperlambat pelaksanaan shalat Idul Fitri dan mempercepat pelaksanaan shalat Idul Adha
  18.     Langsung shalat Id tanpa Adzan dan Iqomah
  19.     Dua kali khutbah dengan diselingi duduk
  20.     Pergi dan pulang melalui jalan yang berbeda
  21.     Berjalan kaki menuju tempat shalat Id
  22.     Membaca surat Qaaf dan Al-Qamar dalam shalat Id
  23.     Menyembelih hewan kurban di tempat pelaksanaan shalat Id
<<<HALAMAN SEBELUMNYA SERATUS ENAM PULUH KEBIASAAN NABI MUHAMMAD SAW 1

HALAMAN SELANJUTNYA SERATUS ENAM PULUH KEBIASAAN NABI MUHAMMAD SAW 3>>>

SERATUS ENAM PULUH KEBIASAAN NABI MUHAMMAD SAW 1

I. KEBIASAAN-KEBIASAAN NABI SAW SEKITAR SHALAT


  1.     Selalu shalat sunnah fajar
  2.     Meringankan shalat sunnah fajar
  3.     Membaca surat Al-Ikhlas dan Al-Kafirun dalam shalat fajar (ayat lain yang dibaca Nabi dalam shalat sunnah fajar)
  4.     Berbaring sejenak setelah shalat sunnah fajar
  5.     Mengerjakan shalat sunnah di rumah
  6.     Selalu shalat sunnah empat rakaat sebelum dhuhur
  7.     Mengganti dengan empat rakaat setelah duhur jika tidak sempat shalat sebelumnya
  8.     Shalat sunnah dua atau empat rakaat sebelum ashar
  9.     Shalat sunnah dua rakaat sesudah maghrib
  10.     Shalat sunnah setelah Isya’
  11.     Mengakhirkan shalat Isya’
  12.     Memanjangkan rakaat pertama dan memendekkan rakaat kedua
  13.     Selalu shalat malam (waktu shalat malam Rasulullah saw)
  14.     Menggosok gigi apabila bangun malam
  15.     Membuka shalat malam dengan 2 rakat ringan
  16.     Shalat malam sebelas rakaat (format shalat malam Nabi sebelas rakaat)
  17.     Memanjangkan shalat malamnya
  18.     Membaca surat Al-A’la, Al-Kafirun dan Al-Ikhlas dalam shalat witir
  19.     Mengganti shalat malam di siang hari jika berhalangan
  20.     Shalat dhuha empat rakaat
  21.     Tetap duduk hingga matahari bersinar setelah shalat subuh
  22.     Meluruskan shaf sebelum mulai shlaat jama’ah
  23.     Mengangkat kedua tangan saat takbiratul ihram, akan ruku’ dan bangun dari ruku’
  24.     Meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri
  25.     Mengarahkan pandangan ke tempat sujud
  26.     Merenggangkan kedua tangan ketika sujud hingga tampak ketiaknya yang putih
  27.     Memberi isyarat dengan jari telunjuk ketika tasyahhud dan mengarahkan pandangan ke arah jari telunjuk
  28.     Meringankan tasyahhud pertama
  29.     Meringankan shalat jika berjama’ah
  30.     Menghadap ke arah kanan makmum selesai shalat jama’ah
  31.     Bersegera ke masjid begitu masuk waktu shalat
  32.     Selalu memperbarui wudhu setiap kali akan shalat
  33.     Tidak menshalatkan jenazah yang masih berhutang
  34.     Menancapkan tombak sebagai pembatas jika shlaat di tanah lapang
  35.     Mengajari shalat kepada orang yang baru masuk Islam
HALAMAN BERIKUTNYA SERATUS ENAM PULUH KEBIASAAN NABI MUHAMMAD SAW 2 >>>

Monday, 17 August 2015

"JANGAN MARAH" MUKJIZAT DALAM SABDA NABI

Ini adalah seruan yang indah diungkapkan manusia terbaik, Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sejak empat belas abad yang lalu. Dan hari ini, di abad dua puluh satu para dokter di Inggris menyerukan hal yang sama, karena mereka menemukan solusi untuk masalah mereka di dalamnya.

Setiap kali seorang atheis (orang yang tidak percaya Tuhan) mendebatku dalam masalah ayat Alquran atau hadis Nabi yang mulia, aku menemukan keajaiban yang nampak dalam kitab Allah dan Sunnah Nabi-Nya, shallallahu 'alaihi wasallam! Seolah-olah orang-orang atheis tersebut “dikirimkan” oleh Allah sebagai jalan untuk memberikan inspirasi penelitian dan perenungan untuk menyingkap keajaiban-keajaiban baru yang tidak pernah terbetik di hati kami seandainya tidak ada kritikan mereka terhadapnya!

 Salah satu hal yang mengejutkanku adalah bahwa salah seorang dari mereka mengklaim bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah "orang yang emosional" tidak dikenal dari beliau kecuali kemarahan dan emosi beliau. Astaghfirullaah (saya meminta pengampunan kepada Allah) dari ucapan ini, akan tetapi saya terpaksa untuk melihat pernyataan-pernyataan mereka untuk dapat membantah dan menjelaskan hakekat keyakinan mereka yang lemah dan rusaknya argumen mereka yang rapuh.

Akan tetapi aku teringat satu hadits yang mulia ketika datang seorang Badui kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata kepada beliau:”Berilah wasiat kepadaku”. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya dengan satu kata yang diserukan oleh para ilmuwan Barat hari ini setelah mereka menemukan apa yang dikandung di dalamnya berupa rahasia-rahasia, manfaat dan arahan-arahan. Kata itu adalah “Jangan marah” yang beliau ulang berkali-kali sampai-sampai terbayang di pikiran orang Badui tersebut kalau Islam itu terkumpul dalam satu ungkapan yang indah ini, yaitu“ Jangan marah”.

 Maka kemarahan adalah kunci dari semua pintu-pintu kejahatan, dan kunci dari sikap arogansi yang menimpa orang-orang atheis dan yang lainnya dari kalangan orang yang skeptis (ragu-ragu). Dan mungkin dapat saya katakan bahwa kemarahan adalah kunci ke Neraka Jahanam. Semoga Allah melindung kita darinya.

Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, Nabi pembawa rahmat tidak pernah marah karena urusan dirinya sendiri (pribadi) atau karena hal-hal duniawi, kecuali jika kesucian/kehormatan Allah dilanggar. Dan di sini terpendam keagungan Nabi yang diolok-olok oleh musuhnya, karena mereka benar-benar tidak menemukan satu pun argumentasi ilmiah yang bisa mereka menyerangnya. Dan setelah kantong-kantong mereka kosong dari argumen-argumen dan bukti-bukti mereka memilih cara orang-orang lemah, yaitu ejekan!

 Agar argumen kami ilmiah, pertama kami ingin memperlihatkan apa yang diterbitkan oleh Daily Mail Inggris tentang seruan yang diserukan oleh para peneliti Inggris yang meyakini bahwa solusi untuk masalah-masalah Barat, yang muncul di tengah-tengah mereka sebagai buah dari atheisme. Maka hari ini Barat menyaksikan tingginya tingkat kejahatan, pemerkosaan dan kekerasan dengan segala bentuknya di jalan dan di rumah. Sesungguhnya hal itu adalah fenomena sosial yang serius (mengkhawatirkan), mereka telah menghabiskan jutaan (uang) untuk menemukan solusi untuknya. Maka lihatlah dengan apa akhirnya mereka keluar!!

 Sejumlah dokter Inggris memperingatkan tersebarnya fenomena hilangnya kemampuan kontrol hati. Mereka menekankan bahwa hal itu terhitung sebagai masalah besar, meskipun ada yang menganggap bahwa hal itu tidak membutuhkan pengobatan. Para dokter tersebut mengatakan bahwa ketidakmampuan mengendalikan amarah telah menjadi fenomena yang berkembang dan menyebabkan kenaikan jumlah tindak pidana dan disintegrasi (perpecahan) keluarga, di samping masalah-masalah kesehatan, baik fisik maupun mental.

 Para dokter tersebut menemukan korelasi yang kuat antara kemarahan kronis dan akut dengan penyakit-penyakit jantung, kanker, stroke, dan frustrasi dan bahkan pilek dengan frekuensi yang banyak! Yayasan Perawatan Kesehatan Mental telah mengeluarkan survei yang menunjukkan bahaya fenomena ini, mereka menyerukan untuk menghadapi bahayanya, karena ia menyakiti kehidupan banyak orang.

 Direktur Eksekutif di Yayasan tersebut, Dr.Andrew Makaloc berkata bahwa termasuk keanehan adalah bahwa manusia dibiarkan sendiri -ketika urusannya berkaitan dengan perasaan yang kuat seperti kemarahan- di dalam lingkungan masyarakat yang mana di dalamnya mereka bisa mendapatkan bantuan ketika menderita depresi, kecemasan, panik, ketakutan, gangguan makan dan masalah psikologis lainnya. Sesungguhnya kemarahan ini jika terus-menerus ada akan menghancurkan kehidupan seseorang. Para peneliti mengakui bahwa mengatasi masalah kemarahan bukan masalah yang mudah, akan tetapi manfaatnya sangat besar!!

 Penelitian ini menguatkan bahwa kemarahan telah menjadi masalah terbesar, meliputi seperempat jumlah masyarakat dan menyebabkan banyak frustrasi. Oleh karena itu mereka menyerukan seruan yang kompak, yang menegaskan pentingnya agar seseorang tidak marah, sebagai sarana pengobatan untuk sebagian besar permasalahan masyarakat, terlebih khusus kaum muda. Sebagaimana studi kedua yang dipublikasikan di situs BBC juga menegaskan bahwa ada hubungan yang kuat antara kemarahan dengan penyakit jantung dan serangan jantung.

Mereka menemukan bahwa manusia yang terbiasa dengan kemarahan berpeluang terserang penyakit jantung, tekanan darah tinggi dan lain-lain. Dan bahkan bisa menyebabkan kematian

Lihatlah bersama kami, bagaimana Barat untuk kembali sedikit demi sedikit ke ajaran Islam, apa maknanya itu? Maknanya adalah satu, yaitu bahwa ketika seseorang mencari, berpikir dan menemukan fakta-fakta ilmiah dan menyelami eksperimen-eksperimen pasti ia akan sampai pada fakta-fakta yang sama yang dibawa oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Dan pertanyaan saya kepada Anda apakah kecintaan Anda kepada Nabishallallahu 'alaihi wasallam meningkat setelah Anda menelaah pembahsan ini?

 Akan tetapi dalam penelitian baru yang dilakukan oleh para peneliti di University of California membuktikan bahwa kemarahan berguna hanya dalam satu kasus, yaitu ketika membela sesuatu dan penggunaan argumen-argumen dan bukti-bukti untuk membuktikan kebenaran sesuatu. Mereka telah menemukan bahwa kemarahan membantu dalam hal ini hanya untuk menegakkan argumen kepada orang lain .

 Di sini, kita katakan Subhaanallahu! Lihatlah bagaimana Nabi agung Muhamadshallallahu 'alaihi wasallam hanya marah dalam satu kondisi, yaitu ketika kesucian/kehormatan Allah dilanggar. Dan penyebab kemarahan beliau adalah agar pelanggaran terhadap aturan Allah bisa diobati dengan cara sebaik mungkin. Inilah akhlak Nabi kita tercinta shallallahu 'alaihi wasallam.

Sesungguhnya fakta-fakta yang dibawa Nabi shallallahu 'alaihi wasallammenggambarkan fitrah (naluri) yang telah Allah ciptakan pada umat manusia. Dan ini bukti fisik terbesar yang menunjukkan bahwa Muhammad shallallahu 'alaihi wasallambenar di dalam dakwahnya ke jalan Allah, dan Kemahabenaran Allah ketika menyifati beliau dengan sifat yang tidak diberikan kepada makhluk selain beliau. Dia berfirman:

(لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ * فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ) [التوبة: 128-129].

 ”Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah :"Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Ilah selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Rabb yang memiliki 'Arsy yang agung.” (QS. At-Taubah: 128-129)

Wednesday, 5 August 2015

Bagaimana Permulaan Turunnya Wahyu kepada Rasulullah saw.

Dan Firman Allah Ta'ala, "Sesungguhnya Kami telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya."

l. Dari Alqamah bin Waqash al-Laitsi, ia berkata, "Saya mendengar Umar ibnul Khaththab r.a. di atas mimbar, 'Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, '(Wahai manusia), sesungguhnya amal-amal itu hanyalah dengan niatnya  dan bagi setiap orang hanyalah sesuatu yang diniatkannya. Barangsiapa yang hijrahnya (kepada Allah dan Rasul Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul Nya. Dan, barangsiapa yang hijrahnya ) kepada dunia, maka ia akan mendapatkannya. Atau, kepada wanita yang akan dinikahinya (dalam riwayat lain: mengawininya), maka hijrahnya itu kepada sesuatu yang karenanya ia hijrah."

2. Aisyah r.a. mengatakan bahwa Harits bin Hisyam r.a. bertanya kepada Rasulullah saw., "Wahai Rasulullah, bagaimana datangnya wahyu kepada engkau?" Rasulullah saw. menjawab, "Kadang-kadang wahyu itu datang kepadaku bagaikan gemerincingnya lonceng, dan itulah yang paling berat atasku. Lalu, terputus padaku dan saya telah hafal darinya tentang apa yang dikatakannya. Kadang-kadang malaikat berubah rupa sebagai seorang laki-laki datang kepadaku, lalu ia berbicara kepadaku, maka saya hafal apa yang dikatakannya." Aisyah r.a. berkata, "Sungguh saya melihat beliau ketika turun wahyu kepada beliau pada hari yang sangat dingin dan wahyu itu terputus dari beliau sedang dahi beliau mengalirkan keringat"

3. Aisyah r.a. berkata, " yang pertama (dari wahyu) kepada Rasulullah saw. adalah mimpi yang baik di dalam tidur. Beliau tidak pernah bermimpi melainkan akan menjadi kenyataan seperti merekahnya cahaya subuh. 
Kemudian beliau gemar bersunyi. Beliau sering bersunyi di Gua Hira. Beliau beribadah di sana, yakni beribadah beberapa malam sebelum rindu kepada keluarga beliau, dan mengambil bekal untuk itu. Kemudian beliau pulang kepada Khadijah

Beliau mengambil bekal seperti biasanya sehingga datanglah kepadanya (dalam riwayat lain disebutkan: maka datanglah kepadanya) kebenaran. 
Ketika beliau ada di Gua Hira, datanglah malaikat  seraya berkata, 'Bacalah!' Beliau berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca. Ia mengambil dan mendekap saya sehingga saya lelah. Kemudian ia melepaskan saya, 
Lalu ia berkata, 'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak dapat membaca:' Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang kedua kalinya, kemudian ia melepaskan saya, 
Lalu ia berkata, 'Bacalah!' Maka, saya berkata, 'Sungguh saya tidak bisa membaca' Lalu ia mengambil dan mendekap saya yang ketiga kalinya, kemudian ia melepaskan saya. 
Lalu ia membacakan, "Iqra' bismi rabbikalladzi khalaq. Khalaqal insaana min'alaq. Iqra' warabbukal akram. Alladzii 'allama bil qalam. 'Allamal insaana maa lam ya'lam." 

'Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. 

Lalu Rasulullah saw. pulang dengan membawa ayat itu dengan perasaan hati yang goncang (dalam satu riwayat: dengan tubuh gemetar). Lalu, beliau masuk menemui Khadijah binti Khuwailid, lantas beliau bersabda, 'Selimutilah saya, selimutilah saya!' 

Maka, mereka menyelimuti beliau sehingga keterkejutan beliau hilang. Beliau bersabda dan menceritakan kisah itu kepada Khadijah, 'Sungguh saya takut atas diriku.' 

Lalu Khadijah berkata kepada beliau, 'Jangan takut (bergembiralah, maka) demi Allah, Allah tidak akan menyusahkan engkau selamanya. (Maka demi Allah), sesungguhnya engkau suka menyambung persaudaraan (dan berkata benar), menanggung beban dan berusaha membantu orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong penegak kebenaran.' 

Kemudian Khadijah membawa beliau pergi kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza (bin Qushai, dan dia adalah) anak paman Khadijah. Ia (Waraqah) adalah seorang yang memeluk agama Nasrani pada zaman jahiliah. Ia dapat menulis tulisan Ibrani, dan ia menulis Injil dengan bahasa Ibrani (dalam satu riwayat: kitab berbahasa Arab. dan dia menulis Injil dengan bahasa Arab) akan apa yang dikehendaki Allah untuk ditulisnya. Ia seorang yang sudah sangat tua dan tunanetra. 

Khadijah berkata, Wahai putra pamanku, dengarkanlah putra saudaramu!' Lalu Waraqah berkata kepada beliau, Wahai putra saudaraku, apakah yang engkau lihat?' Lantas Rasulullah saw: menceritakan kepadanya tentang apa yang beliau lihat. Lalu Waraqah berkata kepada beliau, 'Ini adalah wahyu yang diturunkan Allah kepada Musa! Wahai sekiranya saya masih muda, sekiranya saya masih hidup ketika kaummu mengusirmu....' 

Lalu Rasulullah saw. bertanya, 'Apakah mereka akan mengusir saya?' Waraqah menjawab, 'Ya, belum pernah datang seorang laki-laki yang (membawa seperti apa yang engkau bawa kecuali ia ditolak (dalam satu riwayat: disakiti / diganggu). Jika saya masih menjumpai masamu, maka saya akan menolongmu dengan pertolongan yang tangguh.' 

Tidak lama kemudian Waraqah meninggal dan wahyu pun bersela, [sehingga Nabi saw. bersedih hati karenanya - menurut riwayat yang sampai kepada kami- dengan kesedihan yang amat dalam yang karenanya berkali-kali beliau pergi ke puncak-puncak gunung untuk menjatuhkan diri dari sana. 

Maka, setiap kali beliau sudah sampai di puncak dan hendak menjatuhkan dirinya, Malaikat Jibril menampakkan diri kepada beliau seraya berkata, 'Wahai Muhammad, sesungguhnya engkau adalah Rasul Allah yang sebenarnya.' Dengan demikian, tenanglah hatinya dan mantaplah jiwanya. 
Kemudian beliau kembali pulang. Apabila dalam masa yang lama tidak turun wahyu, maka beliau pergi ke gunung seperti itu lagi. Kemudian setelah sampai di puncak, maka Malaikat Jibril menampakkan diri kepada beliau seraya berkata seperti yang dikatakannya pada peristiwa yang lalu ." [Namus (yang di sini diterjemahkan dengan Malaikat Jibril) ialah yang mengetahui rahasia sesuatu yang tidak diketahui oleh orang lain.


4. Ibnu Abbas r.a. berkata, "Rasulullah saw. adalah orang yang paling suka berderma [dalam kebaikan ], dan paling berdermanya beliau adalah pada bulan Ramadhan ketika Jibril menjumpai beliau. Ia menjumpai beliau pada setiap malam dari [bulan ] Ramadhan [sampai habis bulan itu], lalu Jibril bertadarus Al-Qur'an dengan beliau. Sungguh Rasulullah saw. adalah [ketika bertemu Jibril ] lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang dilepas."

Catatan Kaki:

1 Saya (Al-Albani) berkata, "Yang berkata, 'Menurut riwayat yang sampai kepada kami" adalah Ibnu Syihab az-Zuhri, perawi asli hadits ini dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. Maka, perkataannya ini memberi kesan bahwa tambahan ini tidak menurut syarat Shahih Bukhari, karena ini dari penyampaian az-Zuhri sendiri, sehingga tidak maushul, sebagaimana dikatakan oleh al-Hafizh dalam Fathul Bari. Karena itu, harap diperhatikan!"