THIS TOPIC BOX Ketik Topic Disini Contoh DZIKIR atau MAKAN

Translate

Showing posts with label TAUHID. Show all posts
Showing posts with label TAUHID. Show all posts

Wednesday, 2 December 2015

Tauhid, Apakah itu Tauhid

  • Assalamualaikum http://learnfiqih.blogspot.com
  • Saat malam tanpa sengaja TV mengarah pada satu Acara bejualan Kalung dengan Lafadz Allah yang di peragakan oleh wanita yang tidak menjaga aurat. Dan acara menyanyi Dangdut dengan gerakan yang tidak selayaknya wanita seperti itu, yang memang di akhir zaman ini menyanyi dengan tarian (goyangan) seperti itu malah sesungguhnya masuk dalam katagori erotis (contoh : Goyang Itik). Mengerikannya diakhir zaman ini mereka mengatakan "Alhamdulillah apa yang saya dapatkan ini halal" BOOOM.... seperti inilah yang Allah bicarakan dalam Al Quran dan Nabi Kita Muhamad.
  • Ada makna dibalik kejadian tersebut memang, walau sempat hembusan rasa kesal melintas, kalung tersebut tersemat dalam Maksiat, penjualnya wanita cantik yang tidak menutup aurat.   Alhamdulillah Allah maha baik di rem semua emosi sebab telintas kata Tauhid dalam pikiran.
Tauhid, Apakah itu Tauhid  http://learnfiqih.blogspot.com

  • Jadi bukanlah Tauhid yang manfaat disisi Allah kalau hanya sekedar berucap, "tidak ada tuhan kecuali dia", tidak ada yang menciptakan kecuali dia
  • Karena banyak orang musyrikin mengucapkan itu, seperti Non muslim mengucapkan Alhamdulillah, Insyallah dll mereka lancar  (fasih) mengucapkannya bahkan banyak yang mengerti juga artinya. Tapi bukan itu Tauhid yang manfaat dan menyelamatkan mereka, dan jadi yang mana "la ilaha illallah" yang manfaat menyelamatkan mereka dari Azab.
Jadi Sekarang yang mana la ilaha illallah yang manfaat. Yang mana kalau orang baca selamat dari Neraka.
  • Mereka mengucapkan dan memanfaatkan bagian dari ucapan tadi, dan juga bukan juga hanya mendatangi zhohir ibadah  (sholat, puasa secara zhohir), ini belum menjadi penentu penyelamat. Karena Orang munafik yang nanti berada di neraka paling bawah dia juga Sholat dia juga puasa dan dia juga sedekah.
  • Dalam Al Quran digambarkan Sholatnya orang Munafik maksa (terpaksa)  bukan dari hati, Sedekahnya Juga maksa (terpaksa) kalau Sholat malas kalau infak atau sedekah berat (contoh : dalam hati berbicara berkurang uang saya jadinya) jadi di dalam hatinya tidak ada rasa senang dalam beribadah.
  • Sebab itu masalah Munafik ini tidak bisa menuding ( mengatakan orang lain ) kamu Munafik atau dia Munafik, sebab diri kita sendiri saja kita tidak tahu ( apakah kita termasuk dalam golongan yang suka Munafik atau memang Munafik hehe sama dua-duanya itu tetap Munafik. Mau dia kadang-kadang munafik atau terus Munafik ). 
  • Bila di lontarkan pertanyaan:  "Siapa yang berani mengatakan dirinya bukan orang Munafik?" Untuk itu jangan mengatakan dia Munafik atau Kamu Munafik.
Dalam ayat dikatakan : Manusia itu  paling tau dirinya adalah dia sendiri.

Contoh tanda orang munafik :
  • Merasa senang dipuji untuk hal (masalah) yang dia tidak kerjakan. Perlu di garis bawahi hanya merasa senang, bagaimana bisa di katakan munafik yang begitu berat azabnya yaitu  di neraka paling bawah kembali kepada "Dalam ayat dikatakan : Manusia itu  paling tau dirinya adalah dia sendiri."

Tidak megerjakan apa-apa di puji dia senang,
  • Dalam ayat : "Kamu jangan menyangka dari mereka yang senang di puji dari yang mereka tidak lakukan, jangan menyangka mereka lolos dari Azab neraka"
Yang diminta atau di perlukan:  Disini Tauhid yang manfaat yang betul - betul sebagai kunci surga (sorga). Apa yang terangkum dari makna "La ilaha illallah" :
http://learnfiqih.blogspot.com
1. Dia betul cinta kepada Allah
2. Menunduk (nurut kepada Allah)
3. Menghinakan dirinya hanya kepada Allah
4. Butuh atau perlu hanya kepada Allah
5. Berpegang teguh hanya kepada Allah
6. Hatinya hancur hanya kepada kekuasaan dan keagungan Allah (hati hanya mengarah kepada Allah)
7. Menegakkan taatnya kepada Allah
8. Iklas
9. Menyerah Kepada Takdirnya Allah tidak menentang
10. Dan didalam seluruh ibadahnya yang dia inginkan hanya Allah
11. Didalam gerakannya dan diamnya hanya kepada Allah (dia bergerak karena Allah, dia Dia diampun karena Allah)
12. Tidak memberi karena Allah
13. Memberi karena Allah
14. Mencegah karena Allah
15. Cinta karena Allah
Contoh:
Kita cinta terhadap seseorang karena dia ahli ibadah kita senang dengan dia, kita cinta pada dia karena Allah, bukan karena ada tujuan lain.
16. Benci karena Allah ( bukan orangnya kita benci, karena dia melanggar Allah, bila dia sudah berhenti melangar Allah kita harus cinta dia, tidak boleh benci terus, artinya bila dia sudah tidak melanggar Allah tapi masih benci juga, jadi benci pribadi artinya bukan benci karena Allah )
17. Ridho karena ridhonya allah
18. Marah kepada marahnya Allah ( bila Allah marah kepada dia kita juga marah kepada dia, Jadi yang dimurkai oleh Allah Janganlah kita senang, menyukai apalagi riang gembira, Allah tidak suka Allah marah terhadap hal tersebut Jadi berhati-hatilah )
http://learnfiqih.blogspot.com
Ini Contoh luar biasa bro Akhir Zaman bro:
Orang kafir di jadikah idola hehehe... ( yang namanya orang kafir Allah tidak suka) akhir zaman ini  luar biasa, sudah tau Allah tidak suka (marah ) pada orang kafir hehehe, kita malah mengidolakan Dia, hahaha Rolling Stones atau Taylor Swift kacau-kacau Ini Musibah Akhir Zaman.
  • Untuk harta, sehat, sakit,  ganteng, cantik, jelek, Allah berikan baik kepada yang dia tidak suka (murka) atau yang dia suka ( cinta ) urusan dunia Allah berikan pada semua.
  • Tapi untuk Islam, Allah hanya berikan pada yang dia suka ( senangi ). JADI INILAH TAUHID YANG MANFAAT

  • Ada satu sahabat Imron Bin Husain Al Huzaini beliau sudah islam tetapi ayahnya masih kafir belum Islam dikatakan Imron Bin Husain dia tidak pernah melihat ayahnya (dengan kata lain menunduk baik saat dia kesal, ataupun cinta. Hingga ayahnya masuk Islam baru dia mau memandang wajah ayahnya dan dicium tangannya), karena beliau posisinya seba salah, katanya saya mau senang sama dia tetapi dia kafir, tapi saya mau benci dia kita di suruh berbakti.
  • Dalam Ayat : Kita di suruh tetap berbakti pada orang tua walaupun dia Kafir.
  • "Bila Orang tua kamu kafir memaksa kamu kafir jangan taati tetapi kamu tetap baiklah terhadap orang tua."
  • Dalam ayat : Siapa yang taat kepada Allah dan Rasulnya, dan dia khusuk kepada Allah dan dia taqwa mereka itulah orang - orang yang menang ( mendapatkan sorga / surga )
  • Barang siapa  berpegang teguh kepada allah berarti dia sudah mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus.
  • Siapa yang bertaqwa kepada Allah, Allah jadikan kepadanya jalan keluar dari segala kesulitan dan juga Allah beri dia rizki ( dia diberi Allah Rizki dari hal yang dia tidak duga-duga )

Siapa yang tawakal kepada Allah maka dicukupi.

Dalam hadis Nabi berkata :
  • Siapa yang membaca Quran berarti dia membentengi dirinya dan benteng ini tidak ada yang bisa menembus.
Waduh semakin seru bahasan hari ini
  • Ada lagi barangsiapa membaca Quran tetapi dia tidak yakin kepada Quran berarti dia sedang mengolok-olok Quran. Hehehe kalau kembali kemasalah Munafik Tadi diatas Ana jadi mau tanya isinya Quran Apa saja ? yakin percaya dan terhadap apa yang Allah bilang? Bener nih Jangan boong Nah itu Rolling Stone masih Nangkring (tetap disitu) Posternya, hahaha ketauan generasi poster jadul banget.  
  • Atau di Hp ada vidio apa hayo oooo... waduh kacau, eeh ana Munafik atau sedang mengolok-olok Quran yaah ternyata kadar iman islam diriku masih jauh dari layak.

Nabi berkata:
  • Barang siapa membaca Quran maka mendapatkan 10 pahala di setiap hurufnya

  • Akhir zaman ini luar biasa Nabi yang ngomong masih tidak mau dengar, malah lebih asik liat mbah google cari berita bola sampe habis kuota internet huahahaha jadi curhat..  padahal satu jam kita kalau baca Quran pasti bisa dapat sepuluh lembar lebih.
  • Jangan menyangka narkoba itu hanya orang - orang bejat  yang menkonsumsi, ini internet juga sama, Candu juga, membuat orang ketagihan jadi hati - hati akhir zaman. 
  • Ingat ada pesan dari Dajal Aku akan mendatangi semua tempat di dunia dengan kecepatan yang pantas. hehe beware bro bray broot. 
  • Urusan Dajal dan kisahnya serta kupasan tuntasnya di tulisan berikut ya bray. Wassalam

Saturday, 22 August 2015

ADUH BAGAIMANA MENGOBATI DIRI YANG SUKA BOHONG

Sekali berbohong maka rusak sudah  kita. Oleh sebab itu jadilah orang jujur yang tidak suka berbohong

DALAM TULISAN INI TIDAK MEMPERSOALKAN KARENA JUJUR AKAN MENINGKATKAN KREDIBILITAS ATAU DERAJAT DIMATA ORANG LAIN. KARENA BILA KURANG ILMU TAUHIDNYA DAPAT MENGAKIBATKAN PENYAKIT HATI YANG LUARBIASA  BUSUK
 
Berikut ini adalah cara untuk menjadi orang yang jujur :

1. Lebih Baik Diam Daripada Berbohong

Jika kita ditanya orang lain untuk mengatakan sejujurnya, maka kalau kita tidak mau menjawab sebaiknya alihkan perhatian pembicaraan (ganti topik), diam saja belaga pilon / bodo atau katakan "mau tau aja" atau "ada deh!" wanna know aja hehe.

2. Bohong Itu Dosa

Kalau kamu beriman kepada Tuhan maka kamu harus takut sama yang namanya dosa. Dosa yang menumpuk dan banyak bisa menyeret kita ke neraka. Kebohongan yang satu harus ditutupi oleh banyak kebohongan lainnya. Jadi tambah banyak dosa deh!

3. Anggap Kebohongan Itu Memalukan dan Menjijikkan

Kalau kita tidak mau bohong kita harus menganggap bahwa bohong itu sesuatu yang banci, jijik, buruk, jelek, kotor, memalukan, brengsek, kurang ajar, tercela, dan lain sebagainya. Bohong yang dipelihara bisa menjadikan kita penjahat di masa depan. Dengan begitu kita akan berusaha untuk jadi orang yang jujur.

4. Latih Terus-Menerus

Kalau kita sudah biasa bohong, maka jangan sungkan-sungkan minta bantuan istri, suami, pacar, teman, orangtua, atau sahabat untuk membantu kita menghilangkan kebiasaan bohong. Jika kita berbohong minta orang itu mencubit atau memukul kita sebagai hukuman kelakukan kebohongan.

5. Selalu Bayangkan Wajah Korban Yang Sadar

Coba bayangkan saja wajah-wajah orang yang marah, sedih, kecewa, dan lain-lain setelah tahu kita bohongi. Tentu saja wajah ekspresi mereka bisa membuat hidup kita tidak nyaman. Dengan demikian kita akan berusaha untuk tidak bohong lagi.

6. Bohong Adalah Penyakit

Dengan membiasaan jadi tukang bohong, maka kebiasaan tersebut akan terus menjangkiti dan menggerogoti diri kita sampai akhir hayat kita. Apalagi jika orang di sekeliling kita sudah tidak percaya lagi sama kita sehingga kita dikucilkan oleh orang-orang di sekitar kita. Bagaimanapun juga kebohongan yang ditutup-tutupi akan diketahui juga oleh orang lain (bagaikan bangkai yang lama-lama baunya akan tercium juga).

7. Bergaul Dengan Pembohong / penipu Profesional

Untuk merasakan bagaimana rasanya tidak enak dibohongi kita harus jadi korban dikibuli, ditipu, dikadali, dibohongi, dipecundangi, dipermalukan, dan lain sebagainya oleh orang yang lebih jago bohong / nipu daripada kita. Dengan tahu sakit kalau dibohongi maka kita tidak akan melakukan hal itu kepada orang lain.
CLICK DISINI UNTUK BUKA KALKULATOR ZAKAT  

Wednesday, 19 August 2015

APAKAH ANDA SUKA NGEDUMEL DALAM HATI ATAU DENGKI 3

OBAT DENGKI /  HASAD

<<<Halaman 1       <<<Halaman 2  

Setelah kita mengetahui bahwa hasad adalah penyakit hati yang berbahaya. Maka, tentunya kita ingin mengetahui obat dan terapi hasad tersebut.
Sebenarnya, penyakit hati yang satu ini tidaklah dapat diobati dengan pil atau kapsul dari apotik atau dengan suntik, herbal atau pijit urat, akan tetapi penyakit hati ini hanya dapat diobati dengan ilmu dan amal.
Adapun obat yang pertama adalah ilmu. Ilmu yang bermanfaat untuk mengobati hasad adalah pengetahuan tentang hakikat hasad itu sendiri. Di antaranya, mengetahui bahwa hasad itu berbahaya bagi si penderita, baik bagi agamanya maupun dunianya. Di dunia, hatinya selalu menderita dan tersayat-sayat, boleh jadi dia mati karenanya. Bagaimana tidak? Dia membenci orang lain yang mendapat kenikmatan dan mengharap nikmat tersebut musnah darinya. Padahal, hal itu telah ditakdirkan oleh Allah Azza wa Jalla dan tidak akan musnah sampai saat yang telah ditentukan.
Orang yang hasad ibarat orang yang melempar bumerang kepada musuh. Bumerangnya tidak mengenai sasaran, tetapi bumerang itu kembali kepadanya, sehingga mengenai mata kanannya dan mengeluarkan bola matanya. Lalu dia pun bertambah marah dan kembali melempar kedua kalinya dengan lebih kuat. Akan tetapi, bumerang itu seperti semula, tidak mengenai sasaran dan kembali mengenai mata sebelah kirinya sehingga dia buta. Kemarahannya pun bertambah menyala-nyala, kemudian dia melempar ketiga kalinya dengan sekuat tenaga, akan tetapi bumerang tersebut kembali mengenai kepalanya sampai hancur, sedangkan musuhnya selamat dan mentertawakan dia, karena dia mati atas perbuatannya sendiri. Sedangkan di akhirat nanti, dia akan mendapat adzab dari Allah Azza wa Jalla, jika hasad tersebut melahirkan perkataan dan perbuatan, karena statusnya adalah orang yang telah mendzalimi orang lain ketika di dunia.
Perlu diketahui pula bahwa hasad juga tidak berbahaya bagi orang yang dihasad, baik bagi agamanya maupun dunianya. Dia tidak berdosa dengan hasad orang lain kepadanya. Bahkan, dia mendapatkan pahala jika hasad tersebut keluar berwujud perkataan dan perbuatan, sebab dia termasuk orang yang dizhalimi. Kenikmatan yang ada padanya juga tidak akan musnah karena hasad orang lain kepadanya, sebab kenikmatan tersebut telah ditakdirkan untuknya.
Adapun obat kedua adalah amal perbuatan. Amal perbuatan yang manjur untuk mengobati hasad adalah melakukan perbuatan yang berlawanan dengan perbuatan yang ditimbulkan oleh hasad. Misalnya; gara-gara hasad seseorang ingin mencela dan meremehkan orang yang dihasad. Jika seperti ini, hendaknya dia melakukan hal yang berbeda yaitu memuji orang yang dihasad tersebut. Kemudian jika hasad itu membuatnya sombong kepada orang yang dihasad, maka hendaknya dia tawaddu’ kepadanya. Jika hasad membuatnya tidak berbuat baik atau tidak member hadiah kepada orang yang dihasad, maka, hendaknya dia melakukan sebaliknya, yaitu berbuat baik dan memberikan kepadanya hadiah. Dengan seperti ini insya Allah hasad di hati akan segera lenyap dan hati kembali sehat dan normal.[5]

HASAD YANG DIPERBOLEHKAN?

Mungkin di antara kita ada yang bertanya-tanya. Apakah benar hasad itu ada yang diperbolehkan? Jawabannya, marilah kita simak sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.:
لاَحَسَدَ إِلاَّ فِى اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عّلّى هَلَكَتِهِ فِى الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِى بِهَا وَيُعَلِّمُهَا
Artinya: Tidak ada hasad kecuali kepada dua orang,yang pertama; kepada seseorang yang telah diberi harta kekayaan oleh Allah dan ia habiskan dijalan yang benar, yang kedua; kepada seseorang yang telah diberi hikmah (ilmu) oleh Allah dan ia memutuskan perkara dengannya serta mengajarkannya. [HR.Muttafaq alaih].[6]
Akan tetapi, hasad dalam hadits ini berbeda pengertiannya dengan hasad yang telah disebutkan di atas. Hasad yang ini disebut oleh para Ulama’ dengan sebutan Ghibtâh, yaitu menginginkan kenikmatan seperti yang telah diperoleh oleh orang lain dengan tanpa membenci orang tersebut, serta tidak mengharapkan kenikmatan itu musnah darinya. Syaikh Abdul Muhsin al ‘Abbâd hafizhahullâh dalam menjelaskan hadits di atas berkata; “Yang dimaksud hasad di sini adalah ghibtâh”.[7]
Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Ghibtâh adalah ingin mendapat kenikmatan sebagaimana yang diperoleh oleh orang lain dengan tanpa mengharapkan nikmat tersebut musnah darinya. Jika perkara yang di ghibtâh tersebut adalah perkara dunia, maka hukumnya adalah mubâh (boleh). Jika perkara tersebut termasuk perkara akhirat, maka hukumnya adalah mustahab (sunnat), dan makna hadits di atas adalah tidak ada ghibtah yang dicintai (oleh Allah Azza wa Jalla) kecuali pada dua perkara (yang tersebut di atas) dan yang semakna dengannya”.[8]

<<<HALAMAN SEBELUMNYA APAKAH ANDA SUKA NGEDUMEL DALAM HATI ATAU DENGKI 2

APAKAH ANDA SUKA NGEDUMEL DALAM HATI ATAU DENGKI 2

SEBAB-SEBAB DENGKI / HASAD

 <<<Halaman 1       Halaman 3>>>   
Sumber dan penyebab hasad adalah cinta dunia, baik cinta harta benda, kedudukan, jabatan maupun pujian manusia.
Dunia memang sempit, sering menyempitkan mereka yang memburu dan mencintainya, sehingga tak jarang mereka berjatuhan pada lembah hasad, karena tabiat kekayaan dunia tidak akan bisa dimiliki kecuali ia berpindah dari tangan satu ke tangan lainnya dan berkurang jika dibelanjakan. Berbeda dengan akhirat yang sangat luas, seperti langit yang tak berujung dan seperti lautan yang tak bertepi. Karena sangat luasnya, sehingga tidak menyempitkan orang yang memburu dan mencintainya, sebagaimana kita tidak menjumpai orang berjejal-jejal untuk melihat keindahan langit di waktu malam, karena luasnya dan cakupannya terhadap setiap mata yang memandang.
Ibnu Sirin rahimahullah berkata: “Aku tidak pernah hasad kepada seorang pun dalam masalah dunia, karena jika dia termasuk ahli surga, maka bagaimana aku hasad kepadanya dalam masalah dunia, padahal dia akan masuk surga? Dan jika dia termasuk ahli neraka, maka bagaimana aku hasad kepadanya dalam hal dunia, sedangkan dia akan masuk neraka?.”[3]
Jika tujuan seseorang adalah akhirat, maka hatinya bersih dari hasad, tenang, jernih seperti air yang memancar dari mata air pegunungan; lembut bagaikan sutera, tidak ada tempat bagi hasad di dalamnya. Akan tetapi jika tujuannya adalah dunia, maka hati sangat rawan terjangkit hasad, mudah ternoda dan keruh. Oleh sebab itu, bagi mereka yang mempunyai belas-kasihan terhadap hatinya, hendaknya dia meninggalkan cinta dunia dan menggantikannya dengan cinta akhirat. Karena kenikmatan akhirat tidaklah menyempitkan orang yang memburunya. Ia adalah kenikmatan yang sesungguhnya, kenikmatan yang luar biasa, tidak sebanding dengan kenikmatan-kenikmatan dunia. Kenikmatan tersebut bisa dirasakan oleh orang yang sangat mencintainya, mencari dan memburunya di dunia ini. Jika seseorang tidak ingin memburu kenikmatan hakiki tersebut, atau lemah keinginannya, maka dia bukanlah kesatria, karena yang memburu kenikmatan yang hakiki tersebut adalah para ksatria.[4]

<<<HALAMAN SEBELUMNYA APAKAH ANDA SUKA NGEDUMEL DALAM HATI ATAU DENGKI 1

HALAMAN BERIKUTNYA APAKAH ANDA SUKA NGEDUMEL DALAM HATI ATAU DENGKI 3>>>

APAKAH ANDA SUKA NGEDUMEL DALAM HATI ATAU DENGKI 1

BAHAYA DENGKI

Hasad (dengki) merupakan penyakit hati yang berbahaya bagi manusia, karena penyakit ini menyerang hati si penderita dan meracuninya; membuat dia benci terhadap kenikmatan yang telah diperoleh oleh saudaranya, dan merasa senang jika kenikmatan tersebut musnah dari tangan saudaranya.

Pada hakikatnya, penyakit ini mengakibatkan si penderita tidak ridha dengan qadha’ dan qadar Allah Azza wa Jalla, sebagaimana perkataan Ibnul Qayyim rahimahullah : “Sesungguhnya hakikat hasad adalah bagian dari sikap menentang Allah Azza wa Jalla, karena ia (membuat si penderita) benci kepada nikmat Allah Azza wa Jalla atas hamba-Nya; padahal Allah Azza wa Jalla menginginkan nikmat tersebut untuknya. Hasad juga membuatnya senang dengan hilangnya nikmat tersebut dari saudaranya, padahal Allah k benci jika nikmat itu hilang dari saudaranya. Jadi, hasad itu hakikatnya menentang qadha’ dan qadar Allah Azza wa Jalla.”[1]

Penyakit ini sering dijumpai di antara sesama teman sejabatan, seprofesi, seperjuangan, atau sederajat. Oleh sebab itu, tak jarang dijumpai ada pegawai kantor yang hasad kepada teman sekantornya, tukang bakso hasad kepada tukang bakso lainnya, guru hasad kepada guru, orang ahli ibadah atau Ustadz atau kyai hasad kepada yang sederajat dengannya. Jarang dijumpai hasad tersebut pada orang yang beda kedudukan dan derajatnya, seperti tukang bakso hasad kepada kyai atau tukang becak hasad kepada Ustadz, meskipun tidak menafikan kemungkinan terjadinya.

Penyakit hasad hendaknya dijauhi oleh setiap Muslim, karena madharatnya sangat besar, terutama bagi si penderita baik madharat dari sisi agama maupun dunianya. Tidakkah kita ingat, kenapa Iblis dilaknat oleh Allah Azza wa Jalla?; tidak lain karena sikap hasad dan sombongnya kepada Adam Alaihissallam yang sama-sama makhluk Allah Azza wa Jalla.
Dari sisi lain hasad juga merupakan sifat sebagian besar orang Yahudi dan Nasrani, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla :
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَىٰ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
Ataukah mereka (orang Yahudi) dengki kepada manusia (Muhammad dan orang-orang Mukmin) lantaran karunia yang Allah telah diberikan kepada mereka?..” [an-Nisa’/4:54]
Allah Azza wa Jalla juga berfirman tentang hasad mereka:
وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ
Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang timbul dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” [Qs al-Baqarah/2: 109]
Oleh sebab itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang orang Muslim dari sifat hasad tersebut, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ تَقَاطَعُوْا وَلاَ تَدَابَرُوْا وَلاَ تَبَا غَضُوْا وَلاَ تَحَا سَدُوْا وَكُوْنُوْا إِخْوَانًا كَمَا أَمَرَ كُمُ اللَّهُ
Janganlah kalian memutuskan tali persaudaraan, saling berpaling ketika bertemu dan saling membenci serta saling dengki. Jadilah kalian bersaudara sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah. [HR.Muslim] [2]

HALAMAN BERIKUTNYA APAKAH ANDA SUKA NGEDUMEL DALAM HATI ATAU DENGKI 2>>>

Sunday, 9 August 2015

TAUHID DAN DZIKIR

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dengan orang yang tidak mengingat Rabbnya adalah seperti perumpamaan orang yang hidup dengan orang yang sudah mati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikhul Islam mengatakan, “Dzikir bagi hati laksana air bagi ikan. Lantas apakah yang akan terjadi pada seekor ikan apabila dia dipisahkan dari air?” (Lihat Al Wabil Ash Shayyib oleh Ibnul Qayyim)

Kaitan Syukur dengan Tauhid
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan dalam mukadimah Al Qawa’id Al Arba’, “Aku memohon kepada Allah yang Maha mulia Rabb pemilik arsy yang agung, semoga Dia senantiasa menolongmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Semoga Dia menjadikanmu senantiasa diberkahi di manapun engkau berada dan menjadikanmu bersyukur apabila diberi karunia, bersabar apabila mendapat coba, dan memohon ampun apabila terjatuh dalam dosa, karena sesungguhnya ketiga hal itulah lambang kebahagiaan.”

Syaikh Shalih Alusy Syaikh mengatakan,”Syukur memiliki kaitan erat dengan tauhid. Tatkala sang imam (Syaikh Muhammad bin abdul Wahhab) rahimahullah menyebutkan do’a untuk kita supaya bersyukur atas karunia, bersabar atas musibah dan istighfar ketika berbuat dosa, seolah-olah beliau sedang mengarahkan pandangan matanya kepada kondisi yang dialami kaum yang bertauhid. Beliau berbicara dengan mereka tentang suatu kewajiban yang harus senantiasa mereka tunaikan. Sebab seorang yang telah bertauhid mendapatkan karunia yang sangat besar, tidak ada lagi nikmat lain yang menandinginya. Nikmat itu adalah keberadaannya di atas ajaran Islam yang lurus. Nikmat itulah yang membuatnya bisa tegak di atas prinsip tauhid yang murni. Tauhid itulah yang menjadi sebab Allah menjanjikan kebahagiaan di dunia dan di akhirat bagi orang-orang yang merealisasikannya.” (Syarh Qawa’id Arba’)


Syaikh Shalih melengkapi keterangannya, “Apabila berdosa maka diapun beristighfar”. Dalam diri seorang muwahhid juga terdapat unsur ketidaktaatan. Dia tidaklah terlepas dari perbuatan dosa, yang kecil maupun yang besar. Sedangkan salah satu Asma’ Allah adalah Al Ghafuur (Maha Pengampun) maka pengaruh hukum dari Asma itu pasti terwujud pada alam serta kerajaan-Nya. Karena itulah Allah mencintai hamba-Nya yang bertauhid lagi ikhlash untuk senantiasa meminta ampunan. Seorang muwahhid pasti mengalami hal itu.”

“Apabila seorang hamba meninggalkan keagungan istighfar ini, niscaya dia akan tertimpa kesombongan. Padahal kesombongan akan menghapuskan banyak pahala amal perbuatan. Karena latar belakang itulah beliau (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah) mengatakan di sini,”Apabila berdosa maka diapun beristighfar. 

Karena sesungguhnya ketiga hal itu adalah simbol kebahagiaan sejati”. Maka ini artinya hal itu pasti terjadi terhadap setiap muwahhid. Hal itu mencakup bersyukur ketika mendapat karunia, bersabar ketika tertimpa coba dan beristighfar ketika berbuat dosa dan maksiat. Semakin besar pengenalan seorang hamba terhadap Tuhannya niscaya ketiga hal inipun akan semakin kuat tertancap di dalam jiwanya

Dan semakin besar ruang tauhid dalam hati seorang hamba niscaya ketiga hal ini pun turut membesar. Dengan sikap demikian niscaya akan melahirkan seorang hamba yang tidak lagi memandang selain keridhaan Allah jalla wa ‘ala dalam melaksanakan amal maupun aktifitas hidupnya, dia tidak mau mempersembahkan sedikitpun amalnya untuk selain-Nya. Apabila dia telah lalai dari hal itu maka istighfar yang diucapkannya bukanlah istighfar yang sebenarnya.” (Syarh Qawa’id Arba’)
Berdzikir dan Bersyukur
Allah ta’ala berfirman,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (Qs. Al Baqarah [2]: 152)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Dzikir kepada Allah ta’ala yang paling utama adalah dengan menyesuaikan isi hati dengan dzikir yang diucapkan oleh lisan. Itulah dzikir yang dapat membuahkan pengenalan kepada Allah, rasa cinta kepada-Nya, dan pahala yang melimpah dari-Nya. Dzikir adalah bagian terpenting dari syukur.
Oleh sebab itu Allah memerintahkannya secara khusus, kemudian sesudahnya Allah memerintahkan untuk bersyukur secara umum. Allah berfirman yang artinya, “Maka bersyukurlah kepada-Ku.”

Yaitu bersyukurlah kalian atas nikmat-nikmat ini yang telah Aku karuniakan kepada kalian dan atas berbagai macam bencana yang telah Aku singkirkan sehingga tidak menimpa kalian….”
“Disebutkannya perintah untuk bersyukur setelah penyebutan berbagai macam nikmat diniyah yang berupa ilmu, penyucian akhlak, dan taufik untuk beramal, maka itu menjelaskan bahwa sesungguhnya nikmat diniyah adalah nikmat yang paling agung. 

Bahkan, itulah nikmat yang sesungguhnya. Apabila nikmat yang lain lenyap, nikmat tersebut masih tetap ada.

Sudah selayaknya setiap orang yang telah mendapatkan taufik (dari Allah) untuk berilmu atau beramal untuk bersyukur kepada Allah atas nikmat itu. Hal itu supaya Allah menambahkan karunia-Nya kepada mereka. Dan juga, supaya lenyap perasaan ujub (kagum diri) dari diri mereka. Dengan demikian, mereka akan terus disibukkan dengan bersyukur.”

“Karena lawan dari syukur adalah ingkar/kufur, Allah pun melarang melakukannya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan janganlah kalian kufur”. Yang dimaksud dengan kata ‘kufur’ di sini adalah yang menjadi lawan dari kata syukur. Maka, itu berarti kufur di sini bermakna tindakan mengingkari nikmat dan menentangnya, tidak menggunakannya dengan baik. Dan bisa jadi maknanya lebih luas daripada itu, sehingga ia mencakup banyak bentuk pengingkaran. 

Pengingkaran yang paling besar adalah kekafiran kepada Allah, kemudian diikuti oleh berbagai macam perbuatan kemaksiatan yang beraneka ragam jenisnya dari yang berupa kemusyrikan sampai yang ada di bawah-bawahnya.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 74)
Adh Dhahak bin Qais mengatakan, “Ingatlah kepada Allah di saat senang, niscaya Dia akan mengingat kalian di saat sulit.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 248) Ada lelaki berkata kepada Abud Darda’, “Berilah saya wasiat.” Beliau menjawab, “Ingatlah Allah di waktu senang, niscaya Allah ‘azza wa jalla akan mengingatmu di waktu susah.” (Jami’ul ‘Ulum, hal. 248)

Penopang Tegaknya Agama
Al ‘Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan di dalam sebuah kitabnya yang penuh faedah yaitu Al Fawa’id, “Bangunan agama ini ditopang oleh dua kaidah: Dzikir dan syukur. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur.” (QS. Al Baqarah [2] : 152).”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz, “Demi Allah, aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah kamu lupa untuk membaca doa di setiap akhir shalat: ‘Allahumma a’innii ‘ala dzikrika wa syukrika, wa husni ‘ibaadatik.’ (Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu, serta agar bisa beribadah dengan baik kepada-Mu).” (HR. An Nasa’i [1303] 

Dalam pembahasan Sujud Sahwi, Abu Dawud [1522] dalam pembahasan Shalat, dan Ahmad [21614] dari jalan Abdurrahman Al Hubla dari Ash Shonabihi dari Mu’adz bin Jabal, disahihkan Al Albani dalam Sahih Sunan Abu Dawud. (Tahqiq Al Fawa’id))

Yang dimaksud dengan dzikir di sini bukanlah sekedar berdzikir dengan lisan. Namun, dzikir dengan hati sekaligus dengan lisan". 

 Berdzikir/mengingat Allah mencakup mengingat nama-nama dan sifat-sifat-Nya, mengingat perintah dan larangan-Nya, mengingat-Nya dengan membaca firman-firman-Nya.
Itu semua tentunya akan melahirkan ma’rifatullah (pengenalan terhadap Allah), keimanan kepada-Nya, serta keimanan kepada kesempurnaan dan keagungan sifat-sifat-Nya.

Selain itu, ia akan membuahkan berbagai macam sanjungan yang tertuju kepada-Nya. Sementara itu semua tidak akan sempurna apabila tidak dilandasi dengan ketauhidan kepada-Nya. Maka dzikir yang hakiki pasti akan melahirkan itu semuanya. Dan ia juga akan melahirkan kesadaran mengingat berbagai macam kenikmatan, anugerah, serta perbuatan baik-Nya kepada makhluk-Nya.”

“Adapun syukur adalah mengabdi kepada Allah dengan menaati-Nya, mendekatkan diri kepada-Nya dengan hal-hal yang dicintai-Nya, baik yang bersifat lahir ataupun batin. Dua perkara inilah simpul ajaran agama. Mengingat-Nya akan melahirkan pengenalan (hamba) kepada-Nya.

Dan dalam bersyukur kepada-Nya terkandung ketaatan kepada-Nya. Kedua perkara inilah tujuan diciptakannya jin dan manusia, langit dan bumi serta segala sesuatu yang berada di antara keduanya. Lawan dari tujuan ini adalah berupa kebatilan (kesia-siaan) dan main-main belaka. Allah Maha tinggi dan Maha suci dari perbuatan semacam itu. Seperti itulah anggapan buruk yang ada pada diri musuh-musuh-Nya.”

Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa-apa yang ada di antara keduanya sia-sia, itulah yang disangka oleh orang-orang kafir itu.” (Qs. Shad [38]: 27)

Allah ta’ala berfirman yang artinya, Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa yang berada di antara keduanya sekedar bermain-main saja. Tidaklah Kami menciptakan keduanya kecuali dengan tujuan yang benar.” (Qs. Ad Dukhan [44]: 38-39)

Allah juga berfirman yang artinya, Dan tidaklah Kami menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya kecuali dengan tujuan yang benar, dan sesungguhnya hari kiamat itu pasti datang. (Qs. Al Hijr [15]: 85)

Allah berfirman setelah menyebutkan tanda-tanda kebesaran-Nya di awal surat Yunus yang artinya, Tidaklah Allah menciptakan hal itu semua kecuali dengan maksud yang benar.” (Qs. Yunus [10]: 5)

Allah berfirman yang artinya, Apakah manusia mengira dia ditinggalkan begitu saja.” (Qs. Al Qiyamah [75]: 36). 

Allah berfirman pula yang artinya, Apakah kalian mengira kalau Kami menciptakan kalian hanya sia-sia dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Qs. Al Mu’minun [23]: 115)

Allah berfirman yang artinya, Dan tidaklah Kami menciptkan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Qs. Adz Dzariyat [51]: 56)

Dalam ayat lainnya, Allah lah yang menciptakan tujuh lapis langit dan bumi seperti itu pula. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu dan Allah ilmunya meliputi segala sesuatu.” (Qs. Ath Thalaq [65]: 12)

Allah berfirman yang artinya, Allah menjadikan ka’bah yaitu baitul haram sebagai kiblat sholat bagi umat manusia, demikian pula bulan haram, hadyu dan qalaa’id. Itu semua agar kalian mengetahui allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan segala yang ada di bumi, dan bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Qs. Al Maa-idah [5]: 97).”

“Maka dengan disebutkannya ayat-ayat tersebut telah terbukti bahwasanya tujuan penciptaan dan perintah ialah agar Allah diingat dan disyukuri. Sehingga Dia akan selalu diingat dan tidak dilupakan. Akan selalu disyukuri dan tidak diingkari. Allah Yang Maha suci akan mengingat siapa saja yang mengingat diri-Nya. Dan Allah juga akan berterima kasih (membalas kebaikan) kepada siapa saja yang bersyukur kepada-Nya.

Mengingat Allah adalah sebab Allah mengingat hamba. Dan bersyukur kepada-Nya adalah sebab Allah menambahkan nikmat-Nya. Maka dzikir lebih terfokus untuk kebaikan hati dan lisan. Syukur dari hati dalam bentuk rasa cinta dan taubat yang disertai ketaatan. Adapun di lisan, syukur itu akan tampak dalam bentuk pujian dan sanjungan. Dan syukur juga akan muncul dalam bentuk ketaatan dan pengabdian oleh segenap anggota badan.” 

Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillaahi Rabbil ‘alamiin.

Saturday, 8 August 2015

BENARKAH ANDA MENGENAL ALLAH ?

Pertanyaan ini mungkin jarang sekali kita dengar

 Bahkan, bagi banyak orang akan terasa aneh dan terkesan tidak penting. Padahal, mengenal Allah dengan benar (baca: ma’rifatullah) merupakan sumber ketentraman hidup di dunia maupun di akherat. Orang yang tidak mengenal Allah, niscaya tidak akan mengenal kemaslahatan dirinya, melanggar hak-hak orang lain, menzalimi dirinya sendiri, adalah termasuk menebarkan kerusakan di atas muka bumi tanpa sedikitpun mengenal rasa malu.

Berikut ini, sebagian ciri-ciri atau indikasi dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta keterangan  pedoman dalam menjawab pertanyaan di atas:

Pertama; Orang Yang Mengenal Allah Merasa Takut Kepada-Nya

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah orang-orang yang berilmu saja.” (QS. Fathir: 28)


Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “…Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, ‘Cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti keilmuan.’ Kurangnya rasa takut kepada Allah itu muncul akibat kurangnya pengenalan/ma’rifah yang dimiliki seorang hamba kepada-Nya. Oleh sebab itu, orang yang paling mengenal Allah ialah yang paling takut kepada Allah di antara mereka. Barangsiapa yang mengenal Allah, niscaya akan menebal rasa malu kepada-Nya, semakin dalam rasa takut kepada-Nya, dan semakin kuat cinta kepada-Nya. Semakin pengenalan itu bertambah, maka semakin bertambah pula rasa malu, takut dan cinta tersebut….” (Thariq al-Hijratain, dinukil dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir[5/97])

Kedua; Orang Yang Mengenal Allah Mencurigai Dirinya Sendiri
Ibnu Abi Mulaikah -salah seorang tabi’in- berkata, “Aku telah bertemu dengan tiga puluhan orang Shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan mereka semua merasa sangat takut kalau-kalau dirinya tertimpa kemunafikan.” (HR. Bukhari secaramu’allaq).
Suatu ketika, ada seseorang yang berkata kepada asy-Sya’bi, “Wahai sang alim/ahli ilmu.”Maka beliau menjawab, “Kami ini bukan ulama. Sebenarnya orang yang alim itu adalah orang yang senantiasa merasa takut kepada Allah.” (dinukil dari adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [5/98])

Ketiga; Orang Yang Mengenal Allah Mengawasi Gerak-Gerik Hatinya
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “..Begitu pula hati yang telah disibukkan dengan kecintaan kepada selain Allah, keinginan terhadapnya, rindu dan merasa tentram dengannya, maka tidak akan mungkin baginya untuk disibukkan dengan kecintaan kepada Allah, keinginan, rasa cinta dan kerinduan untuk bertemu dengan-Nya kecuali dengan mengosongkan hati tersebut dari ketergantungan terhadap selain-Nya. Lisan juga tidak akan mungkin digerakkan untuk mengingat-Nya dan anggota badan pun tidak akan bisa tunduk berkhidmat kepada-Nya kecuali apabila ia dibersihkan dari mengingat dan berkhidmat kepada selain-Nya. Apabila hati telah terpenuhi dengan kesibukan dengan makhluk atau ilmu-ilmu yang tidak bermanfaat maka tidak akan tersisa lagi padanya ruang untuk menyibukkan diri dengan Allah serta mengenal nama-nama, sifat-sifat dan hukum-hukum-Nya…” (al-Fawa’id, hal. 31-32)

Keempat;  Orang Yang Mengenal Allah Selalu Mengingat Akherat
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, maka akan Kami sempurnakan baginya balasan amalnya di sana dan mereka tak sedikitpun dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak mendapatkan apa-apa di akherat kecuali neraka dan lenyaplah apa yang mereka perbuat serta sia-sia apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersegeralah dalam melakukan amal-amal, sebelum datangnya fitnah-fitnah (ujian dan malapetaka) bagaikan potongan-potongan malam yang gelap gulita, sehingga membuat seorang yang di pagi hari beriman namun di sore harinya menjadi kafir, atau sore harinya beriman namun di pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya demi mendapatkan kesenangan duniawi semata.”(HR. Muslim)

Kelima; Orang Yang Mengenal Allah Tidak Tertipu Oleh Harta
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya perbendaharaan dunia. Akan tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah rasa cukup di dalam hati.” (HR. Bukhari). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Seandainya anak Adam itu memiliki dua lembah emas niscaya dia akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan mengenyangkan rongga/perut anak Adam selain tanah. Dan Allah akan menerima taubat siapa pun yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari)
Keenam; Orang Yang Mengenal Allah Akan Merasakan Manisnya Iman
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa memilikinya maka dia akan merasakan manisnya iman…” Di antaranya, “Allah dan rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan bisa merasakan lezatnya iman orang-orang yang ridha kepada Rabbnya, ridha Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasul.” (HR. Muslim).

Ketujuh; Orang Yang Mengenal Allah Tulus Beribadah Kepada-Nya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setiap amal itu dinilai berdasarkan niatnya. Dan setiap orang hanya akan meraih balasan sebatas apa yang dia niatkan. Maka barangsiapa yang hijrahnya [tulus] karena Allah dan Rasul-Nya niscaya hijrahnya itu akan sampai kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena [perkara] dunia yang ingin dia gapai atau perempuan yang ingin dia nikahi, itu artinya hijrahnya akan dibalas sebatas apa yang dia inginkan saja.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak memandang kepada rupa kalian, tidak juga harta kalian. Akan tetapi yang dipandang adalah hati dan amal kalian.” (HR. Muslim). Ibnu Mubarak rahimahullah mengingatkan, “Betapa banyak amalan kecil yang menjadi besar karena niat. Dan betapa banyak amalan besar menjadi kecil gara-gara niat.” (Jami’ al-‘Ulum wal Hikam oleh Ibnu Rajab).
Demikianlah, sebagian ciri-ciri orang yang benar-benar mengenal Allah. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita untuk termasuk dalam golongan mereka. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.