THIS TOPIC BOX Ketik Topic Disini Contoh DZIKIR atau MAKAN

Translate

Tuesday, 17 November 2015

Sejarah Turunnya Surah Al Kafirun

Sebab turun nya surat Al Kaafirun/asbabun nuzul


Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Quraisy berusaha mempengaruhi Nabi saw. dengan menawarkan kekayaan agar beliau menjadi seorang yang paling kaya di kota Makkah, dan akan dikawinkan dengan yang beliau kehendaki. Usaha ini disampaikan dengan berkata: "Inilah yang kami sediakan bagimu hai Muhammad, dengan syarat agar engkau jangan memaki-maki tuhan kami dan menjelekkannya, atau sembahlah tuhan-tuhan kami selama setahun." 
  • Nabi saw menjawab: "Aku akan menunggu wahyu dari Tuhanku." Ayat ini (S.109:1-6) turun berkenaan dengan peristiwa itu sebagai perintah untuk menolak tawaran kaum kafir. Dan turun pula Surat Az Zumar ayat 64 sebagai perintah untuk menolak ajakan orang-orang bodoh yang menyembah berhala. (Diriwayatkan oleh at-Thabarani dan Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas.) 
  • Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum kafir Quraisy berkata kepada Nabi saw.: "Sekiranya engkau tidak keberatan mengikuti kami (menyembah berhala) selama setahun, kami akan mengikuti agamamu selama setahun pula." Maka turunlah Surat Al Kafirun (S.109:1-6). (Diriwayatkan oleh Abdurrazaq yang bersumber dari Wahb dan Ibnul Mundzir yang bersumber dari Juraij.) 
  • Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa al-Walid bin al-Mughirah, al-'Ashi bin Wa-il, al-Aswad bin Muthalib dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah saw dan berkata: "Hai Muhammad! Mari kita bersama menyembah apa yang kami sembah dan kami akan menyembah apa yang engkau sembah dan kita bersekutu dalam segala hal dan engkaulah pemimpin kami." Maka Allah menurunkan ayat ini (S.109:1-6) (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa'id bin Mina.)

    Surat Al Kaafiruun mengisyaratkan tentang habisnya semua harapan orang-orang kafir dalam usaha mereka agar Nabi Muhammad s.a.w. meninggalkan da'wahnya. HUBUNGAN SURAT AL KAAFIRUUN DENGAN SURAT AN NASHR Surat Al Kaafiruun menerangkan bahwa Rasulullah s.a.w. tidak akan mengikuti agama orang-orang kafir, sedang dalam surat An Nashr diterangkan bahwa agama yang dibawa Nabi Muhammad s.a.w. akan berkembang dan menang

Monday, 16 November 2015

Arti "Haji"

Haji secara harfiah berarti "menuju, mengunjungi, terus menerus pergi dan mengunjungi tempat yang penting dan terhormat."

  • Sebagai istilah Islam haji berarti ibadah yang dilakukan di bulan Zulhijah tahun Hijriyah dengan melakukan beberapa tugas keagamaan sesuai dengan kondisi mereka dan metode dengan benar di Ka'bah, Arafah, Muzdalifa dan Mina.
  • Haji menjadi wajib sembilan tahun setelah Hijrah (kepindahan Nabi Muhammad (SAW) dari Mekah ke Madinah.)
  • Ibadah haji adalah fardhu (wajib) untuk setiap Muslim yang mampu
  • Allah (swt) memerintahkan haji dalam ayat ke-97 Surah al Al-Imran:
  • "Disana terdapat tanda tanda yang jelas  (petunjuk Allah), diantaranya maqam tempat Ibrahim berdiri untuk berdoa, dan siapa saja yang memasukinya maka amanlah dia. Dan ziarah ke Baitullah adalah kewajiban kepada Allah bagi umat manusia, bagi orang yang dapat menemukan jalan ke sana. Adapun orang yang mengingkari (kewajiban) haji, ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu dari semua makhluk) "(QS. al Al-Imran I, 97).
  • "Sempurnakan ibadah haji dan umrah karena Allah." (QS. al Baqarah, 196)
  • "Wahai manusia! Allah (swt) telah menetapkan kewajiban ibadah haji. Bersegeralah untuk melakukan ibadah haji." (Muslim)
  • Haji adalah salah satu dari lima rukun Islam
  • Haji  adalah salah satu rukun Islam. Jadi, itu adalah perintah Allah (swt) yang fardhu seperti sholat dan puasa.
  •  Diriwayatkan oleh 'Abdullah bin' Umar bahwa Rasulullah (saw) bersabda:
  • "Kekuatan islam ditopang oleh lima (pilar), bersaksi  bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dan melaksanakan sholat, membayar Zakat, Ziarah ke Rumah Allah (Ka'bah) dan puasa Ramadhan. "(Sahih Muslim, Buku 1, Hadis 20)
  • Haji membedakan umat Islam dari Kristen dan Yahudi
  • Kunjungan ke Ka'bah adalah khusus bagi umat Islam. Dalam agama Kristen dan Yudaisme tidak ada  kewajiban haji sesuai dengan doktrin Islam.
  • "Barang siapa yang memiliki cukup makanan untuk perjalanan, alat transportasi untuk mencapai ke Mekah, namun tidak melakukan haji, kemudian ia mati, ia maka akan mati sebagai seorang Yahudi atau Kristen" (At-Tirmidzi, Al-Bazzar)
  • Haji adalah salah satu perbuatan yang paling unggul
  • Dikisahkan oleh Abu Huraira:
  • Rasul Allah bertanya, "Apakah perbuatan terbaik?" Dia menjawab, "Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad). Penanya itu kemudian bertanya," Apa berikutnya (dalam kebaikan)? Dia menjawab, "Ikut serta dalam jihad di jalan Allah." Penanya kembali bertanya, "Apa berikutnya (dalam kebaikan)?" Dia menjawab, "melakukan ibadah Haji  ke Mekah 'Mabrur, (yang diterima oleh Allah dan dilakukan dengan maksud mencari keridhoan Allah saja dan tidak untuk pamer dan tanpa melakukan dosa dan sesuai dengan tradisi Nabi). " (Bukhari, Book 2, Hadis 25) (Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah)
  • Haji adalah penghapusan bagi dosa-dosa
  • Dikisahkan oleh Abu Huraira: Rasul Allah berkata,
  • "Siapapun yang melakukan haji ke rumah ini (Ka'bah) dan tidak mendekati istrinya untuk hubungan seksual atau melakukan dosa (saat melakukan ibadah haji), ia akan keluar  tanpa dosa seperti anak yang baru lahir. (yang baru dilahirkan oleh ibunya) . " (Bukhari, Kitab 28, hadis 45)
  • Pahala haji adalah "jannah"
  • Sayidina Abu Huraira meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) bersabda:
  • "Melaksanakan 'Umrah adalah kafarat untuk dosa yang dilakukan (antara itu dan sebelumnya). Dan pahala haji mabrur (yang diterima oleh Allah) adalah  surga." (Bukhari, Umra, 1) (Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah)
  • Haji memberi wanita pahala jihad
  • Jika seorang wanita berhasil dalam melaksanakan haji nya dalam keikhlasan tanpa melakukan dosa, ia dianggap telah mencapai  jihad terbaiknya.
  • Dikisahkan  Ummul Mu’minin 'Aisyah: Saya berkata"!. Ya Rasulullah Kami menganggap jihad sebagai perbuatan terbaik", Nabi bersabda, "Jihad terbaik (untuk wanita) adalah haji mabrur." (Bukhari, Haij; 595)
  • Dikisahkan oleh Aisyah: Aku berkata, "Ya Rasulullah tidak bolehkah kami berpartisipasi dalam pertempuran suci dan jihad bersama dengan Anda!?" Dia menjawab, "Yang terbaik dan jihad paling unggul (untuk wanita) adalah haji yang diterima oleh Allah." Sayidina 'Aisha menambahkan: Sejak aku mendengar itu dari Rasul Allah aku telah bertekad untuk tidak melewatkan haji. (Bukhari, 29, 84)
  • Ketika paling banyak hamba diampuni adalah pada hari-hari haji
  • 'Aisyah (ra) menceritakan Rasulullah (saw) bersabda:
  • "Tidak ada hari dimana Allah membebaskan lebih banyak hamba-Nya dari neraka daripada hari 'Arafah. Dia semakin dekat, kemudian memuji mereka ke malaikat, sambil mengatakan: Apa yang hamba-hamba-Ku inginkan? "
  • (Muslim, Buku 7, Hadits: 3126)
  • Hari Arafah adalah hari yang cukup penting bagi haji. Wuquf yang merupakan pilar penting dari haji dilakukan pada hari Arafah pada sore sampai matahari terbenam. Rukun haji seorang muslim yang tidak melaksanakan wuquf tidak sah.
  • Jutaan umat Islam dari seluruh dunia memohon, berdoa dan menyembah Allah (swt) pada hari yang sama, di tempat yang sama, Arafah dan Allah swt melimpahkan pengampunan-Nya atas begitu banyak hamba pada hari Arafah yang diberkati .
  • "Tidak ada hari yang lebih baik dari pada hari Arafah dalam satu tahun, tidak ada hari yang lebih baik daripada hari Jumat selama seminggu." (Tirmidzi)
  • Haji adalah ibadah yang bahkan bayi dihargai
  • Ibnu Abbas, meriwayatkan bahwa Nabi (saw) bertemu dengan beberapa pengendara di al-Rawha 'dan berkata, "Siapa orang-orang ini?" Kata mereka, "Kaum Muslimin." Mereka berkata, "Siapa kau?" Katanya, " Rasulullah saw. "Seorang wanita mengangkat seorang anak dan berkata," Apakah ada haji untuknya? "Dia berkata, 'Ya, dan Anda akan mendapatkan pahala." (Muslim, 1336)
  • Haji adalah ibadah yang mendapat keuntungan dari karunia Allah (swt) sehubungan dengan imbalan duniawi juga
  • Dikisahkan oleh Ibn 'Abbas:
  • "Dzul Majaz-dan 'Ukaz adalah pasar rakyat selama periode pra-jahiliyah sebelum Islam. Ketika orang-orang memeluk Islam, mereka tidak menyukai untuk melakukan tawar-menawar di sana sampai Ayat Suci berikut diwahyukan: - Tidak ada salahnya bagi kalian Jika kalian mencari dari karunia  Tuhanmu (selama haji oleh perdagangan, dll) (2.198) ( Bukhari, Haj, 822)
  • Seperti disebutkan dalam suatu ayat, umat Islam diperbolehkan untuk terlibat dalam perdagangan dan bisnis selama hari-hari suci Haji. Namun, tentunya tidak boleh mencegah para jama’ah dari memenuhi kewajiban haji mereka. Larangan perdagangan khusus pada jam- jam di hari Jum’at.
  • Haji adalah ibadah yang dapat mengenal Nabi dan sahabat-Nya lebih dekat
  • Haji adalah ibadah yang mengilhami renungan mendalam untuk umat Islam karena dilakukan di tempat-tempat suci di mana Nabi tercinta (saw) dan para sahabatnya yang diberkati memenuhi tugas terhormat mereka.
  • Ibadah haji adalah untuk mengetahui "kepribadian kolektif dari Rasulullah (saw)" dengan pengetahuan tertentu yang merupakan sumber kebahagiaan dan perantaraan ummat ini.
  • Apa yang kita harus fahami dari ekspresi "kepribadian kolektif Nabi" adalah  dakwahnya (misi) dan keberadaannya sebagai nabi masa lalu dan bahkan masa depan.
  • Dunia ini seperti sebuah masjid  yang imamnya adalah  Nabi Muhammad (saw)yang diberkati.
  • Mekah adalah mihrab nya (altar) di mana Islam telah muncul dan itu adalah tempat di mana Nabi memimpin umat manusia untuk mempelajari ajaran iman.
  • Madina adalah mimbar  di mana Islam mulai diimplementasikan dan di mana etika sosial Islam diajarkan dan didirikan pada kehidupan sosial.
  • Mengunjungi tempat-tempat suci ini dengan renungan mendalam tentu membantu Muslim mendapatkan pengetahuan tulus dan tertentu tentang Nabi (saw) dan para sahabatnya yang dikasihi.
  • Haji mengingatkan Hari Kiamat
  • Haji adalah seperti latihan dari Perkumpuulan Agung pada Hari Kiamat.
  • Ritual haji  seperti symbol yang mengingatkan akan Hari Kiamat.
  • Rumah Suci Ka’bah di musim Haji mengingatkan "mahsyar" (lapangan tempat manusia dihimpun).
  • Perjalanan  Haji mengingatkan perjalanan manusia dari dunia ke akhirat. Ihram, pakaian haji, menyerupai kain kafan. Wuquf di Arafah dan Muzdalifah adalah pengingat dari Qiyamah (hari kiamat) dan padang mahsyar. Talbiyah adalah ekspresi penyerahan kepada Allah (swt). Tawaf (mengitari Ka’bah) adalah seperti contoh para malaikat yang mengelilingi para Arasy (Kursi Allah), menyentuh, mencium atau menunjuk Hajar Aswad (Batu Hitam) melambangkan kesetiaan kita kepada janji kita, sa'i antara Safa dan Marwa melambangkan kebaikan (thawabs) dan dosa-dosa dan jantung yang bolak-balik antara nafs dan jiwa. Mengorbankan hewan melambangkan pengorbanan nafs (jiwa) dengan melaksanakan ibadah dan keselamatan organ tubuh kita dari neraka sebagai imbalan atas organ hewan  yang diqurbankan.
  • Selama haji, semua jamaah haji apapun bangsa, bahasa, warna, peringkat atau status sosialnya, memakai pakaian yang sama,yaitu kain ihram yang menyerupai kain kuburan. Lapangan Haji penuh orang  berpakaian ihram memanifestasikan fakta yang disebutkan dalam ayat "Setiap jiwa akan merasakan kematian." (QS Al-Imran, 185). Refleksi kematian yang mendalam dan praktis tersebut adalah cara yang bagus dan efektif akan ketulusan, pengabdian, penyerahan yang mengarah ke keyakinan yang kuat.
  • Melalui haji, Muslim  memahami arti sebenarnya dari "Allahu Akbar"
  • "Seringnya menyatakan "Allahu Akbar! (Allah Maha Besar!) " selama haji adalah untuk alasan di atas. Haji yang berkah adalah ibadah pada tingkat universal untuk semua orang. Seperti halnya pada hari istimewa seperti festival, seorang  prajurit pergi ke perayaan raja seperti Jenderal di lingkaran jendral, dan menerima nikmat-Nya, dengan cara yang sama, seorang Hajji, tidak peduli seberapa rendahnya, kembali  menuju Pemelihara nya di bawah judul yang maha Pemelihara setiap wilayah bumi, seperti orang suci yang telah melalui semua  tingkatan. Ia dihormati dengan ibadah universal. Yang pasti, derajat universal dominicalitas yang dibuka dengan kunci  haji, dan cakrawala kebesaran Tuhan yang terlihat oleh matanya melalui teleskop, serta lingkup ibadah yang secara bertahap terungkap ke hatinya dan imajinasi melalui kepatuhannya , dan panas, ketakjuban, kekaguman, dan ketakutan akan dominicalitas yang disebabkan oleh tingkat keagungan dan tahap terakhir manifestasi, hanya bisa ditenangkan dengan 'Allah Maha Besar! Allah Maha Besar! ', Dan terungkapnya tingkat yang dilihat atau dibayangkan  hanya dapat dicanangkan oleh itu. Setelah haji, makna ini ditemukan dalam berbagai derajat mulia dan universal dalam sholat Hari Raya ('Idul Adha), doa minta hujan, dan doa doa yang dibacakan pada gerhana matahari dan bulan, dan dalamsholat  berjamaah. Dengan demikian, pentingnya tanda dan peringatan Islam, juga bahkan jika dari kategorikan Sunnah, terletak pada alasan ini "(Badiuzzaman, The words, 16th Word).
  • Haji adalah cara pendidikan karakter
  • Haji, selain merupakan kewajiban, adalah cara pendidikan juga. Haji menetapkan akhlak yang baik dan menghasilkan manfaat sosial banyak yang membawa banyak kebaikan untuk individu dan masyarakat Muslim.
  • Seorang Haji menghadapi banyak kesulitan, kesukaran dan situasi sulit selama periode persiapan, perjalanan dan ritual selama haji yang mengajarkan dia untuk bersabar dan tunduk, lembut dan permisif dan mengajarkan bagaimana mengontrol emosinya dan tetap tenang.
  • Haji adalah perkumpulan tahunan terbesar di dunia
  • Haji adalah seperti sebuah konferensi internasional dengan jutaan umat Islam berkumpul dari berbagai budaya  dan kebiasaan yang berbeda beda. Dalam haji, jamaah belajar untuk fokus pada poin umum dan menjaga persatuan, persaudaraan sejati dan harmoni meskipun terdapat perbedaan dan melihat bahwa tidak ada perbedaan yang  benar-benar nyata dan setiap manusia sama dan sederajat di hadapan Allah. Juga haji adalah kesempatan besar untuk bertemu Muslim dari berbagai negara dan berbagi ide, perasaan, belajar lebih banyak tentang negara-negara Muslim lainnya.
  • Haji memperkuat perasaan persaudaraan universal dan memanifestasikan bahwa Islam adalah agama persatuan dan solidaritas
  • Haji menghapus segala macam perbedaan dan memberikan kesatuan umat Islam. Dua juta orang dari ratusan negara yang berbeda dan bangsa yang berbeda, warna yang berbeda dan budaya yang berbeda berkumpul di tempat yang sama untuk tujuan yang sama, mereka mengenakan pakaian yang sama dan menghadap ke Kiblat yang sama. Mereka berbagi perasaan yang sama dan tindakan yang sama. Mereka menyebut Tuhan yang unik yang sama dan mengikuti langkah-langkah Nabi yang sama (saw). Tidak peduli mereka kaya atau miskin mereka sama dalam kewajiban dan hak. Seluruhnya ini membuat Muslim menyadari bahwa mereka sebenarnya hanyalah saudara satu sama lain atas nama Islam. Jadi, haji membentuk persaudaraan yang tulus di kalangan umat Islam dan jelas memanifestasikan bahwa Islam adalah agama persatuan dan solidaritas.

Sunday, 15 November 2015

Inilah Al Kafirun

Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)
  • Katakanlah: “Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” (QS. Al Kaafirun: 1-6)
Surat ini adalah surat Makkiyah (yang turun sebelum hijroh).

Kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Membaca Surat Al Kaafirun

Dari Jabir bin ‘Abdillah, ia mengatakan,
كَانَ يَقْرَأُ فِى الرَّكْعَتَيْنِ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ) وَ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ)
  • “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca di shalat dua raka’at thowaf yaitu surat Qul Huwallahu Ahad (Al Ikhlas) dan surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun (Al Kaafirun).” (HR. Muslim no. 1218)
Dari Abu Hurairah, ia berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَرَأَ فِى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ (قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ) وَ (قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ)
  • “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca di dua raka’at sunnah Fajr (Qobliyah Shubuh) yaitu surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun (Al Kaafirun) dan surat Qul Huwallahu Ahad (Al Ikhlas).” (HR. Muslim no. 726)
Dari Ibnu ‘Umar, ia mengatakan,
رَمَقْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعًا وَعِشْرِينَ مَرَّةً ، أَوْ خَمْسًا وَعِشْرِينَ مَرَّةً يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ وَبَعْدَ الْمَغْرِبِ {قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ} ، {وَقُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ}.
  • “Saya melihat Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam shalat sebanyak dua puluh empat atau dua puluh lima kali. Yang beliau baca pada dua rakaat sebelum shalat subuh dan dua rakaat setelah maghrib adalah surat Qul Yaa Ayyuhal Kaafirun (Al Kaafirun) dan surat Qul Huwallahu Ahad (Al Ikhlas).” (HR. Ahmad 2/95. Syaikh Syu;aib Al Arnauth mengatakan, sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim)
Isi Surat Al Kaafirun
  • Surat ini berisi ajaran berlepas diri dari amalan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. Surat ini berisi perintah untuk ikhlas dalam melakukan amalan (yaitu murni ditujukan pada Allah semata).

Tafsir Surat Al Kaafirun
Firman Allah Ta’ala,
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ
  • Katakanlah: “Hai orang-orang kafir”. Ayat ini sebenarnya ditujukan pada orang-orang kafir di muka bumi ini. Akan tetapi, konteks ayat ini membicarakan tentang kafir Quraisy.
  • Mengenai surat ini, ada ulama yang menyatakan bahwa karena kejahilan orang kafir Quraisy, mereka mengajak Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beribadah kepada berhala mereka selama satu tahun, lalu mereka akan bergantian beribadah kepada sesembahan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam (yaitu Allah Ta’ala) selama setahun pula. Akhirnya Allah Ta’ala pun menurunkan surat ini. Allah memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk berlepas diri dari agama orang-orang musyrik tersebut secara total.
Yang dimaksud dengan ayat,
لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ
  • Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah”, yaitu berhala dan tandingan-tandingan selain Allah.
Maksud firman Allah selanjutnya,
وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
  • Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah”, yaitu yang aku sembah adalah Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Allah Ta’ala firmankan selanjutnya,
وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ
  • Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah”, maksudnya adalah aku tidak akan beribadah dengan mengikuti ibadah yang kalian lakukan, aku hanya ingin beribadah kepada Allah dengan cara yang Allah cintai dan ridhoi.
Oleh karena itu selanjutnya Allah Ta’ala mengatakan kembali,
وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah”, maksudnya adalah kalian tidak akan mengikuti perintah dan syari’at Allah dalam melakukan ibadah, bahkan yang kalian lakukan adalah membuat-buat ibadah sendiri yang sesuai selera hati kalian. Hal ini sebagaimana Allah firmankan,
إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنْفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُمْ مِنْ رَبِّهِمُ الْهُدَى
  • Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (QS. An Najm: 23)
  • Ayat-ayat ini secara jelas menunjukkan berlepas diri dari orang-orang musyrik dari seluruh bentuk sesembahan yang mereka lakukan.
  • Seorang hamba seharusnya memiliki sesembahan yang ia sembah. Ibadah yang ia lakukan tentu saja harus mengikuti apa yang diajarkan oleh sesembahannya. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para pengikutnya menyembah Allah sesuai dengan apa yang Allah syariatkan. Inilah konsekuensi dari kalimat Ikhlas “Laa ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah”. Maksud kalimat yang agung ini adalah “tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi melainkan Allah, dan jalan cara untuk melakukan ibadah tersebut adalah dengan mengikuti ajaran Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam”.  Orang-orang musyrik melakukan ibadah kepada selain Allah, padahal tidak Allah izinkan. Oleh karena itu Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada mereka,
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
  • Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.” Maksud ayat ini sebagaimana firman Allah,
وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ
  • Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: “Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Yunus: 41)
لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ
  • Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu.” (QS. Asy Syura: 15)
Imam Al Bukhari mengatakan,
( لَكُمْ دِينُكُمْ ) الْكُفْرُ . ( وَلِىَ دِينِ ) الإِسْلاَمُ وَلَمْ يَقُلْ دِينِى ، لأَنَّ الآيَاتِ بِالنُّونِ فَحُذِفَتِ الْيَاءُ كَمَا قَالَ يَهْدِينِ وَيَشْفِينِ . وَقَالَ غَيْرُهُ ( لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ ) الآنَ ، وَلاَ أُجِيبُكُمْ فِيمَا بَقِىَ مِنْ عُمُرِى ( وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ ) . وَهُمُ الَّذِينَ قَالَ ( وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا )
  • Lakum diinukum”, maksudnya bagi kalian kekafiran yang kalian lakukan. “Wa liya diin”, maksudnya bagi kami agama kami. Dalam ayat ini tidak disebut dengan (دِينِى) karena kalimat tersebut sudah terdapat huruf “nuun”, kemudian “yaa” dihapus sebagaimana hal ini terdapat pada kalimat (يَهْدِينِ) atau (يَشْفِينِ). Ulama lain mengatakan bahwa ayat (لاَ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ), maksudnya adalah aku tidak menyembah apa yang kalian sembah untuk saat ini. Aku juga tidak akan memenuhi ajakan kalian di sisa umurku (artinya: dan seterusnya aku tidak menyembah apa yang kalian sembah), sebagaimana Allah katakan selanjutnya (وَلاَ أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ). Mereka mengatakan,
وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرًا مِنْهُمْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ طُغْيَانًا وَكُفْرًا
  • Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka.” (QS. Al Maidah: 64). Demikian yang disebutkan oleh Imam Al Bukhari.
Mengenai Ayat Yang Berulang dalam Surat Ini
  • Mengenai firman Allah yang berulang dalam surat ini yaitu pada ayat,
لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5)
  • Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
Ada tiga pendapat dalam penafsiran ayat ini:
  • Tafsiran pertama: Menyatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah untuk penguatan makna (ta’kid). Pendapat ini dinukil oleh Ibnu Jarir dari sebagian pakar bahasa. Yang semisal dengan ini adalah firman Allah Ta’ala,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (5) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (6)
  • Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”  (QS. Alam Nasyroh: 5-6)
Begitu pula firman Allah Ta’ala,
لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ (7)
  • Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin.” (QS. At Takatsur: 6-7)
  • Tafsiran kedua: Sebagaimana yang dipilih oleh Imam Bukhari dan para pakar tafsir lainnya, bahwa yang dimaksud ayat,
لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ
  • Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.” Ini untuk masa lampau.
وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5)
  • Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.” Ini untuk masa akan datang.
Tafsiran ketiga: Yang dimaksud dengan ayat,
لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ
  • Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.” Yang dinafikan (ditiadakan di sini) adalah perbuatan (menyembah selain Allah) karena kalimat ini adalah jumlah fi’liyah (kalimat yang diawali kata kerja).
Sedangkan ayat,
وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ
  • Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.” Yang dimaksudkan di sini adalah penafian (peniadaan) menerima sesembahan selain Allah secara total. Di sini bisa dimaksudkan secara total karena kalimat tersebut menggunakan jumlah ismiyah (kalimat yang diawali kata benda) dan ini menunjukkan ta’kid (penguatan makna). 
  • Sehingga seakan-akan yang dinafikan dalam ayat tersebut adalah perbuatan (menyembah selain Allah) dan ditambahkan tidak menerima ajaran menyembah selain Allah secara total. Yang dimaksud ayat ini pula adalah menafikan jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin sama sekali menyembah selain Allah. Tafsiran yang terakhir ini pula adalah tafsiran yang bagus. Wallahu a’lam.

Faedah Berharga dari Surat Al Kafirun
  • Dalam ayat ini dijelaskan adanya penetapan aqidah meyakini takdir Allah, yaitu orang kafir ada yang terus menerus dalam kekafirannya, begitu pula dengan orang beriman.
  • Kewajiban berlepas diri (baro’) secara lahir dan batin dari orang kafir dan sesembahan mereka.
  • Adanya tingkatan yang berbeda antara orang yang beriman dan orang kafir atau musyrik.
  • Ibadah yang bercampur kesyirikan (tidak ikhlas), tidak dinamakan ibadah.

Saturday, 14 November 2015

INILAH 9 Anak-anak IBLIS

Iblis mempunyai sembilan anak dengan tugas yang berbeda-beda di dalam menjerumuskan manusia ke neraka. Kesembilan anak ini terus berkembangbiak dan tidak pernah mati hingga hari akhirat.

1. Khonzab
Khonzab adalah anak Iblis yang bertugas mengganggu shalat manusia, seperti meniupkan rasa waswas saat niat shalat. Diriwayatkan dari Utsman bin Al-Ash رضي الله عنه, beliau berkata; "Wahai Rasulullah, setan telah menghalang-halangi antara shalat dan bacaanku. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :
ذَلِكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ إذَا حَسَسْته فَتَعَوَّذْ بِاَللَّهِ مِنْهُ وَاتْفُلْ عَلَى يَسَارِك ثَلَاثًا 
Artinya : "Dia adalah setan yang bernama Khonzab. Jika kamu merasakan kehadirannya, maka berlindunglah kepada Allah dari gangguannya dan meludahlah kekiri tiga kali"
2. Walhan
Walhan bertugas mengganggu manusia saat melakukan thaharah, seperti wudlu dan mandi, hingga kadang seseorang berlebihan menggunakan air saat bersuci. Rasulullah bersabda :
إنَّ لِلْوُضُوءِ شَيْطَانًا , يُقَالُ لَهُ وَلْهَانُ , فَاتَّقُوا وَسْوَاسَ الْمَاءِ
Artinya : "Sesungguhnya dalam wudlu ada setan yang bernama Walhan. takutlah kalian akan waswas dalam menggunakan air".
3. Zallanbur
Anak Iblis ini bertugas di pasar. Ia mengelabui para penjual untuk melakukan kecurangan dan sumpah palsu. Merayu mereka agar berlebihan dalam memuji barang dagangan, dan mengurangi takaran dan timbangan
4. Al-A'war
Al-A'war adalah setan zina. Ia meniup kemaluan laki-laki dan perempuan untuk melakukan zina. Na'udzubillah
5. Al-Wasnan
Ini setan yang menemani manusia saat tidur. Ia duduk kepala, agar manusia merasakan berat pada kepalanya hingga malas untuk bangun tidur, meniup mata agar tetap terpejam, padahal waktu shalat telah tiba.
6. Tabr
Anak Iblis ini melaksanakan tugasnya saat manusia tertimpa musibah. Ia merayu rayu shohibul musibah untuk merintih-rintih, tidak rela akan takdir Allah. Mendorongnya melakukan sesuatu yang diharamkan, seperti membanting, memukul bahkan bunuh diri.
7. Dasim
Ini nama setan makanan. Ia makan bersama manusia yang tidak membaca bismillah saat mau makan, menghuni rumah, masuk ke dalam pakaian yang tidak dilipat, tidur di atas tempat tidur, menemani saat bersetubuh dan membuat gara-gara agar terjadi pertengkaran dan bahkan perceraian dalam rumah tangga.
8. Mathwun
Ia bertugas memberikan kabar-kabar bohong, dan memunculkan sifat adu domba di antara manusia.

9. Al-Abyadl
Ini dia setan yang paling sakti, dan paling cerdik. Ia menggoda para nabi, rasul, dan para wali. Untuk Nabi dan Rasul atas pertolongan Allah, sudah tentu bebas dari godaannya. Maka setan Al-Abyadl ini menfokuskan diri dan berusaha sekuat tenaga untuk menggoda para wali agar tergelincir dari jalan yang benar.
رب أعوذ بك من همزات الشياطين وأعوذ بك رب أن يحضرون

Sunday, 18 October 2015

Membunuh Nyamuk Menggunakan Raket Nyamuk 1

  • “Apa hukum membunuh nyamuk atau binatang semisal dengan raket listrik padahal Nabi memerintahkan kita untuk membunuh atau menyembelih binatang dengan cara yang baik?”
  • Jawaban, “Jika binatang tersebut itu secara riil memang mengganggu dan tidak ada jalan untuk terbebas dari gangguannya kecuali dengan membunuhnya menggunakan raket listrik atau alat semisalnya hukum membunuhnya dengan cara semacam itu diperbolehkan.
  • Hukum di atas adalah pengecualian dari perintah untuk membunuh binatang dengan cara yang baik karena alasan kondisi darurat. Inilah kesimpulan umum yang bisa kita ambil dari sabda Nabi, “Ada lima hewan pengganggu yang boleh dibunuh baik di tanah haram ataupun di tanah halal, burung gagak, burung rajawali, kalajengking, tikus dan anjing yang galak” [HR Bukhari, Muslim dll].

Akhi fillah, islam melarang kita untuk membunuh sesuatu dengan membakar, karena yang berhak membakar adalah Allah Ta'alaa saja sebagaimana sabda Rasulullah shallawahu 'alaihi wasallam:

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ :بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْثٍ فَقَالَ إِنْ وَجَدْتُمْ فُلَانًا وَفُلَانًا فَأَحْرِقُوهُمَا بِالنَّارِ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أَرَدْنَا الْخُرُوجَ إِنِّي أَمَرْتُكُمْ أَنْ تُحْرِقُوا فُلَانًا وَفُلَانًا وَإِنَّ النَّارَ لَا يُعَذِّبُ بِهَا إِلَّا اللَّهُ فَإِنْ وَجَدْتُمُوهُمَا فَاقْتُلُوهُمَا
  • Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu beliau berkata : Rasulullah shallawahu  'alaihi wasallam mengutus kami dalam satu sariyah lalu Beliau berkata : " jika kalian menemukan fulan dan fulan maka bakarlah keduanya dengan api, kemudian ketika kami hendak berangkat Rasulullah shallawahu 'alaihi wasallam berkat : "sesungguhnya aku telah memerintahkan kalian untuk membakar fulan dan fulan, sesungguhnya api tidak pantas untuk menyiksa dengannya kecuali Allah, maka jika kalian menemukan mereka bunuhlah mereka berdua" HR Bukhari.
- عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ أُتِيَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِزَنَادِقَةٍ فَأَحْرَقَهُمْ فَبَلَغَ ذَلِكَ ابْنَ عَبَّاسٍ فَقَالَ لَوْ كُنْتُ أَنَا لَمْ أُحْرِقْهُمْ لِنَهْيِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُعَذِّبُوا بِعَذَابِ اللَّهِ وَلَقَتَلْتُهُمْ لِقَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ
  • Dari Ikrimah berkata : telah dihadapkan kepada Ali radhallahu anhu orang-orang zindiq lalu beliau membakar mereka, namun berita tersebut sampai kepada Ibnu Abbas radhiallahu anhu lalu beliau berkata : " seandainya aku, tentu aku akan membakar mereka karena Rasulullah shallawahu 'alaihi wasallam melarangnya dalam sabda beliau : "janganlah kalian menyiksa dengan siksaan Allah" tapi tentulah aku akan membunuh mereka berdasarkan sabda Rasulullah shallawahu 'alaihi wasallam : " barangsiapa mengganti agamanya maka bunuhlah".
ما أخرج البزّار في مسنده عن عثمان بن حبّان قال : " كنت عند أمّ الدّرداء رضي الله عنها ، فأخذت برغوثاً فألقيته في النّار ، فقالت : سمعت أبا الدّرداء يقول : قال رسول اللّه صلى الله عليه وسلم : لا يعذّب بالنّار إلاّ ربّ النّار ".
  • Dikeluarkan oleh Al-Bazzar dalam musnadnya dari Utsman bin Hibban berkata: ketika itu aku ditempat Ummu Darda' radhiallahu anha, lalu aku mengambil seekor kutu lalu aku melemparkannya kedalam api, maka beliau berkata : aku mendengar Abu Darda' berkata: Rasulullah shallawahu  'alaihi wasallam bersabda : " tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Robbnya api".
  • Riwayat- riwayat diatas menunjukkan dilarangnya membunuh atau menyiksa dengan api, dalam hal ini para sahabat berbeda pendapat:
  • 1- Sebagian ada yang melarangnya termasuk Ibnu Abbas dan Umar bin Khatthab radhiallahu anhum berdasarkan riwayat-riwayat diatas.
  • 2- Sebagian lain ada yang membolehkannya termasuk Ali bin Abi Thalib dan Khalid bin Walid radhallahu anhum berdasarkan beberapa riwayat :
  • - Diantaranya ketika ada golongan Saba'iyyah yang menganggap Ali sebagai Robb beliau membakar mereka.
عن عَبْد اللَّه بْن شَرِيك الْعَامِرِيّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : قِيلَ لِعَلِيٍّ إِنَّ هُنَا قَوْمًا عَلَى بَاب الْمَسْجِد يَدَّعُونَ أَنَّك رَبّهمْ ، فَدَعَاهُمْ فَقَالَ لَهُمْ وَيْلكُمْ مَا تَقُولُونَ ؟ قَالُوا : أَنْتَ رَبُّنَا وَخَالِقنَا وَرَازِقنَا . فَقَالَ : وَيْلكُمْ إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ مِثْلُكُمْ آكُلُ الطَّعَام كَمَا تَأْكُلُونَ وَأَشْرَبُ كَمَا تَشْرَبُونَ .... ، وَجَاءَ بِالْحَطَبِ فَطَرَحَهُ بِالنَّارِ فِي الْأُخْدُود وَقَالَ : إِنِّي طَارِحكُمْ فِيهَا أَوْ تَرْجِعُوا ، فَأَبَوْا أَنْ يَرْجِعُوا فَقَذَفَ بِهِمْ فِيهَا حَتَّى إِذَا اِحْتَرَقُوا قَالَ : إِنِّي إِذَا رَأَيْت أَمْرًا مُنْكَرًا أَوْقَدْت نَارِي وَدَعَوْت قَنْبَرَا
وَهَذَا سَنَد حَسَن

Dari Abdullah bin Syarik Al-'amiriy dari ayahnya berkata :
  •  Diberitakan kepada Ali bahwa ada satu kaum di depan pintu masjid mendakwa dirimu sebagai Robb mereka, lalu beliau memanggil mereka dan berkata  celaka kalian apa yang kalian katakan  mereka berkata  Engkau adalah Robb kami dan Pencipta kami dan Pemberi kami, lalu beliau berkata  celaka kalian, aku hanyalah hamba seperti kalian makan sebagaimana kalian makan dan minum sebagaimana kalian minum, lalu beliau memerintah seseorang untuk membawa kayu bakar dan dilemparkan kedalam parit dalam keadaan menyala, lalu beliau berkata sesungguhnya aku akan melempar kalian kedalamnya atau kalian bertaubat, namun mereka enggan bertaubat dan Alipun melempar mereka kedalam api sampai terbakar.

  • - Begitu pula riwayat yang menceritakan ketika Rasulullah shallawahu alaihi wasallam menusuk mata orang-orang 'Urainiyyin dengan besi yang dibakar.
  • - Begitu pula ketika Abu Bakar membakar golongan murtaddin.
  • - Begitu juga Khalid bin Walid yang membakar golongan murtaddin, ini semuanya menunjukkan bolehnya membunuh dengan api.
  • Berkata Muhallab :  larangan dalam hadits tidak menunjukkan pengharamannya tetapi sebagai bentuk sikap tawadhu', yang menunjukkan bolehnya membakar adalah perbuatan para sahabat. Dan sebagian ulama Madinah membolehkan membakar benteng-benteng dan kapal-kapal seperti yang dikatakan Imam nawawi dan 'Auzai.

    Adapun membunuh nyamuk dengan raket nyamuk, maka sepengetahuan kami, nyamuk tidak mati karena terbakar, tapi karena kesetrum, lalu terbakar dalam keadaan sudah mati, jadi tidak termasuk dalam hal menganiaya nyamuk

  • Namun pendapat yang kuat adalah dilarang membunuh dengan membakar berdasarkan hadits Nabi diatas, adapun riwayat dari sebagian sahabat mansukh dengan larangan Nabi shallawahu 'alaihi wasallam, dan riwayat membakar benteng dan kapal itu karena darurat,demikian juga sebagian sahabat mengingkarinya, seperti Ibnu Abbas ketika mengingkari perbuatan Ali radhiallahu anhu.
  • Adapun membunuh nyamuk dengan raket nyamuk, maka sepengetahuan kami, nyamuk tidak mati karena terbakar, tapi karena kesetrum, lalu terbakar dalam keadaan sudah mati, jadi tidak termasuk dalam hal menganiaya nyamuk, oleh karenanya hukumnya diperbolehkan, apalagi nyamuk termasuk serangga yang mengganggu dan juga menyebabkan beberapa penyakit yang berbahaya, jadi syariat mengizinkan kita untuk membunuhnya dengan cara apapun yang memudahkan, apalagi kalau jumlahnya banyak.

  •     Syeikh Hamid bin Abdullah Al-'Ali  ketika ditanya apakah boleh membunuh nyamuk dengan alat yang ada arus listriknya? Lalu beliau menjawab: tidak mengapa karena nyamuk mati sebelum terbakar.

Tidak mengapa menggunakannya, dikarenakan alasan:
  • Menyetrumnya tidaklah membakarnya, akan tetapi hal tersebut membuatnya mati, buktinya jika engkau letakkan kertas di atas alat ini, kertas itu tidak terbakar.
  • Orang yang meletakkan alat ini tidak bermaksud untuk menyiksa lalat dan serangga dengan api, akan tetapi tujuannya adalah untuk menolak gangguannya. Ada hadits yang melarang menyiksa dengan api, sedangkan ini tidaklah untuk menyiksa akan tetapi untuk menolak gangguan.
  • Secara umum, sangat sulit untuk membasmi serangga kecuali dengan menggunakan alat ini atau dengan alat yang menyemprotkan bau tidak enak yang terkadang bisa membahayakan tubuh. Dan Nabi shollallohu alaihi wa sallam pernah membakar pohon kurma Bani Nadhir, sedangkan di pohon kurma biasanya terdapat burung, serangga dan yang semisalnya.